Skip to main content

AKU POSITIF TERINFEKSI COVID 19

Sudah lama tidak "menulis" disini. Padahal begitu banyak cerita yang ingin ku tuliskan, tetapi begitu banyak pula pekerjaan yang harus ku selesaikan.

"Banyak hutang cerita nih!" Tapi kali ini aku ingin membagikan pengalamanku sendiri yang baru beberapa waktu lalu dinyatakan positif terinfeksi virus Covid 19.

"Bagaimana perasaannya ketika ta'u 'positif' ?"

Sama seperti dinyatakan positif hamil disaat anak bayi masih berusia 6 bulan, bingung, cemas dan tidak tahu harus berkata atau berbuat bahkan berpikir apa.

Tapi ku bukan sedang hamil lagi yah! Aku menganut paham 2 anak lebih baik, jadi jangan dipaksa tambah bayi lagi kalau tidak ya Anda saja yang hamil.

Bukan penyakitnya yang menyiksa, tapi kesehatan mental yang dibuat otomatis menurun.

Hal pertama yang aku khawatirkan adalah anak-anakku bagaimana ? Siapa yang menjaga mereka ? Bagaimana nanti mereka jika jauh dariku ? Aku belum pernah terpisah jarak dengan mereka.

Dengan kondisiku yang masih harus memberikan ASI kepada bayi usia 7 bulan, belum lagi anak sulungku yang belum pernah terpisah lama dariku, ditambah pekerjaan suami yang pasti akan terbengkalai, semua hal membuatku berpikir keras dan langsung menangis sesenggukan.

Sedihnya hidup diperantauan.

Hari Senin tanggal 12 Juli 2021 kondisiku sudah tidak stabil dengan demam tinggi flu, badan menggigil kedinginan, ditambah saat menelan justru aku hanya merasakan pahit dan bahkan sempat tidak merasakan apapun.

Seperti lidah yang mati rasa saat menegak minuman panas, seperti itulah rasanya kehilangan indera perasa. Semua makanan enak yang ku pesan hanya percuma karena tidak merasakan apapun.

Hari itu pula aku segera melakukan test Antigen dikarenakan jika harus WFO (Work From Office) harus menyertakan surat keterangan Negative Covid 19. Tidak terpikirkan bahwa aku akan menerima kabar buruk, dikarenakan kondisiku yang saat itu aku yakini hanya flu biasa karena sudah 4 hari berturut-turut terkena hujan sewaktu pulang bekerja.

Hari itu aku ditemani suami tercinta ke salah satu klinik di Bukittinggi yang membuka pelayanan Antigen sampai dengan malam hari. 

Aku segera mengetahui bahwa aku dinyatakan Positive terinfeksi Virus Covid 19. Hal yang pertama ku lakukan adalah TIDAK PANIK demi suami walaupun sebenarnya ketakutan dan bingung "setengah mati", apalagi suamiku yang mencoba terlihat baik-baik saja tapi dia begitu gelisah. 

Segera aku meminta tolong suami untuk membawa anak sulungku untuk dilakukan test Antigen juga, mengingat kondisinya sedang batuk flu aku takut apakah anakku juga terpapar.

Kebetulan saat itu suami juga sudah melakukan test SWAB yang diadakan POLRES sehingga tinggal menunggu hasilnya 1-2 hari kedepan, tetapi melihat kondisiku sudah Positive dan untuk berjaga-jaga, suami pun kembali ikut melakukan test Antigen.

Puji Tuhan suami dan anak sulungku dinyatakan Negative beserta Bude Pengasuh anak-anak, tetapi adik sepupu suami yang kebetulan tinggal dengan kami justru dinyatakan Positive terinfeksi virus Covid 19.

Hari itu aku memutuskan untuk mengungsikan suami dan anak sulungku ke tempat saudara iparku, sedangkan aku, adik sepupu suami dan anak bungsuku melakukan Isolasi Mandiri dirumah.

Awal gejala dimulai dari tangga 9 Juli 2021, dimana kondisiku sudah tidak memungkinkan untuk masuk kantor. Badanku menggigil kedinginan, lemah lesu, ditambah aku flu dan sakit kepala tak tertahankan. Mulutku pahit menelan makanan. Aku masih merasa yakin sakit yang ku derita dikarenakan berhujan-hujanan sepulang kantor.

Hari pertama sampai dengan hari ketiga aku begitu tersiksa, apalagi tetap harus merawat anak-anakku dikarenakan "Weekend no nanny". Tapi entah mengapa, seperti pertanda saja, aku mengenakan masker dirumah, tidak mencium anak-anak dan suami, dan benar-benar menjaga kebersihan, berjemur sampai keringatan, berolahraga dan banyak minum air hangat.

Memang benar, jika bisa memilih, lebih baik istri saja yang sakit daripada suami atau anak-anak karena keinginan untuk sembuhnya lebih tinggi, bisa mengurus diri sendiri walau tetap juga bisa mengurus rumah tangga. Saya bangga jadi seorang wanita.

Obat yang dimakan pun hanya Paracetamol mengingat masih harus memberikan ASI, aku benar-benar menjaga diri dari obat-obatan, ditambah aku sendiri punya pengalaman buruk dengan obat-obatan. Aku juga takut terlalu banyak mengkonsumsi obat akan berpengaruh pada ginjal. Bukannya sehat malah tambah penyakit !

Benar-benar hanya mengkonsumsi Paracetamol dan obat-obatan herbal seperti air rebusan jahe merah, memakan 1 siung Bawang Putih Tunggal, minum seduhan Madu dan perasan Lemon, dan yang pasti makan-makanan bergizi dan vitamin, memperbanyak protein seperti telur ayam kampung dan minum air kelapa muda.

Apa tidak memakan obat-obatan khusus untuk penderita terinfeksi Covid 19 ?

Ada. Aku meminta saran dari Tulang (adik lelaki dari Ibu) yang kebetulan seorang dokter, menjelaskan obat-obat apa saja yang harus dikonsumsi dan apa saja yang harus dimakan. Semua makanan alami yang dimakan diatas adalah saran beliau yang sekalipun dokter tetap mengutamakan hal-hal alami untuk memperkuat imun.

Obat-obatan yang diberikan Puskesmas baru diberikan di hari Jumat setelah hari ke tujuh dinyatakan Positf terpapar Virus Covid 19. Yah, terlalu lama karena menunggu hasil PCR yang baru dilakukan dihari ke empat dan hasil baru diterima dihari keenam dikarenakan over load di laboratorium, apalagi kami berada di Bukittinggi, harus mengirimkan sampel PCR ke kota Padang sehingga waktu tempuh juga harus diperkirakan. Maka itu ketika hasil test Antigen sudah menyatakan Positive, tanpa menunggu hasil test PCR saya langsung menghubungi Om untuk menanyakan obat apa saja yang harus saya konsumsi.

Obat-obatan pun hanya diberikan untukku saja dikarenakan yang melakukan test PCR hanya aku saja melihat kondisiku yang lebih parah daripada adik sepupu suami yang hanya batuk saja. Selain itu aku juga tidak ingin menumpuk obat-obatan dikarenakan sudah membeli obat sendiri, karena ada orang lain diluar sana yang lebih membutuhkan.

Anak-anak apa tidak masalah tinggal dengan ku yang jelas terinfeksi ?

Itu juga hal yang menakutkan hatiku dan suami, bahkan keluarga. Setiap hari aku tetap mengecek saluran pernafasan anak-anak karena mereka juga memang sedang flu. Setiap tidur aku membalurkan minyak kutus-kutus, minyak kayu putih cap ayam, minyak siam ditambahkan dengan bawang merah ke tubuh mereka. Diffusse essential oil peppermint setiap malam, dan terkadang aku membuat uap dari seduhan minyak kayu putih cap ayam, menutup mata anak-anak dan membuat mereka menghirupnya. Walaupun mereka menangis, tapi semua juga demi kesehatan mereka. Dan yang terutama, hanya bisa mendoakan kami sehat dan panjang umur.

Selain itu, aku juga sudah berkonsultasi dengan Tulang dan beliau mengirimkan sebuah artikel tentang "If you have Covid 19 and choose to breastfeed" dimana disana dijelaskan tidak masalah memberikan ASI langsung yang terpenting tetap menjaga Protokol Kesehatan dan menjaga kebersihan.

Aku juga berkonsultasi dengan tetangga rumah yang lebih dulu terpapar virus Covid 19 dan masih harus memberikan ASI untuk putranya.

Hari keempat dan kelima, keadaan telah membaik tetapi berganti menjadi kehilangan indera penciuman dan mulai batuk dan nyeri dada setiap kali menarik nafas. Bahkan terasa "nafas pendek". Banyak orang menyarankan untuk "mencuci hidung" dengan cairan NaCl. Sampai saat ini, aku menutup diri untuk mendengarkan saran dari berbagai pihak yang sebenarnya untuk kebaikan sih tapi buatku hanya menambah pikiran. Aku lebih memilih dan memantapkan hati hanya mendengarkan Om ku saja untuk saran-sarannya. Terlalu banyak mendengarkan orang lain juga merusak mental dan imun. Penanganan masing-masing orang juga berbeda-beda.

Dan yang paling menyebalkan adalah ketika terinfeksi seperti ini, sengaja untuk tidak memberitahu siapapun, hanya orang terdekat saja bahkan rekan-rekan dikantor juga hanya memberikan informasi kepada rekan kerja terdekat / satu tim, pimpinan langsung dan pimpinan besar, tetapi ketika orang lain sudah mengetahuinya mulai lah dengan pertanyaan "kok bisa kena? itulah sok-sok an keluar-keluar, itu kan bahaya bawa anak-anak, belum tentu bersih. kena dari siapa ?

It's not the right time untuk memberikan komentar yang sebenarnya menyakiti hati kami si penderita, tidak menambah dengan judge-ing tidak melakukan protokol kesehatan dengan baik. Siapa yang ingin sakit ? Apalagi sakit seperti ini, sakit yang sebenarnya lebih menyakiti mental si penderita daripada sakit itu sendiri yang sebenarnya hanya seperti sakit batuk dan flu biasa.

Hal-hal yang meningkatkan imun adalah berbicara dengan orang-orang yang selalu memberikan masukan positif. Serius deh! Tidak harus memberikan ceramah atau nasehat panjang lebar, membahas Drama Cina atau Korea terbaru saja sangat menyenangkan hati yang membuat imun meningkat drastis. Banyak juga orang-orang terbaik yang mengirimkan makanan dan vitamin kerumah.

Mungkin untuk semua pembaca cerita ini, agar berhati-hati ketika memberikan komentar kepada teman-teman atau kenalan yang sedang mengalami hal buruk sepertiku. Bahkan ada pula yang berkomentar tidak sepantasnya ketika salah satu kenalannya sudah meninggal dunia karena terinfeksi virus Covid 19 ini. Tempatkanlah kamu diposisi si penderita sebelum kamu memberikan komentar.

Hari keenam aku sudah melewati masa-masa sesungguhnya penderita Covid 19, hanya tinggal batuk dan sedikit sesak pada dada saat batuk.

Tingkat keberhasilanku melewati ini semua yang paling utama adalah efek vaksin yang sudah kulakukan tuntas. Sama seperti bayi yang harus menerima vaksin seperti vaksin campak / cacar, ketika mereka harus terinfeksi cacar, mereka tidak akan menderita lebih seperti bayi yang tidak menerima vaksin campak / cacar, proses penyembuhan mereka pasti juga lebih cepat. Seperti itulah yang aku alami.

Banyak diluaran sana yang merasa takut melakukan vaksin karena melihat berita negative akibat menerima vaksin. Menurut pengamatanku, mungkin saja mereka tidak memberitahukan penyakit bawaan yang mereka miliki atau obat-obatan rutin apa yang mereka konsumsi, atau mungkin saja mereka belum mengetahui adanya penyakit bawaan yang mereka derita.

Dan faktor terbesar kesembuhanku adalah dekat dengan anak-anakku, walaupun berjauhan dengan suami. Tak terbayangkan jika aku harus berjauhan dengan mereka, mungkin sampai saat ini aku mengalami penurunan imun karena stres. Mungkin ada yang merasa bahwa aku justru tidak sayang anak dengan mereka tetap disampingku disaat keadaanku seperti ini. Justru ketika mereka tetap berada disampingku adalah obat yang paling manjur untukku. Melihat mereka bermain dan bertumbuh, memastikan mereka makan-makanan sehat, adalah penyemangatku. Bukan aku tidak percaya dengan orang lain, tetapi, jika mereka pun harus sakit, tetapi aku bisa merawat dan mengasuh mereka. Perasaan ini hanya seorang ibu yang mengetahuinya. Bersyukur jika ada yang berdekatan dengan keluarganya, atau memiliki pengasuh / nanny yang tinggal dirumah. Aku sendiri tetap dengan berbangga hati dan menikmati setiap proses ini.

Sehebat apapun Protokol Kesehatan yang kita lakukan, tapi jika imun tubuh sedang turun dan dikelilingi orang-orang yang mobilitasnya tinggi mungkin tidak menderita Positif Covid 19 tapi justru sebagai Carrier, atau juga orang-orang yang mungkin sudah terinfeksi tapi takut untuk melakukan pemeriksaan, yasudah, dinikmati saja, itu juga bagian dari rejeki untuk beristirahat.

Tidak perlu menyalahkan orang lain atau diri sendiri jika mengalami penyakit ini karena yang ada hanya akan menurunkan daya tahan tubuh. Harus berpikiran positif dan berdamai dengan keadaan. Dan aku selalu meyakinkan diri untuk menikmati setiap proses dalam hidupku, karena TIDAK AKAN DATANG DUA KALI. 

Sampai saat aku menuliskan kisah ini gejala yang aku alami hanya tinggal batuk saja yang belum tuntas. Hari ini pun kami sudah ke Puskesmas untuk melakukan test Swab kedua dan berharap hasilnya segera Negatif karena "demi apapun yah" aku sudah bosan. Bukan bosan untuk tetap #dirumahaja , tapi bosan untuk tidak berjalan kaki pagi hari menghirup udara bersih dipekarangan, karena jika keluar rumah akan "dipelototin" tetangga. Bukan aku saja yang bosan, anak-anak juga kasihan hanya bermain didalam rumah, hanya dibelikan mainan untuk bisa betah bermain didalam rumah.

Tapi, setelah mengalami ini mungkin aku akan trauma dengan orang-orang yang batuk dan flu disekitarku, lebih menjaga diri dan keluarga, menjaga daya tahan tubuh dan lebih memperketat Protokol Kesehatan.

Karena menderita penyakit ini aku bisa memberitahu orang banyak bahwa sehat itu sangat mahal dan berharga. Dan yang paling penting, dalam doaku saat ini adalah agar Tuhan memberikan kesehatan dan umur yang panjang untuk ku dan suami juga anak-anak dan keluarga kami, apalagi aku dan suami biar bisa lihat anak-anak bertumbuh dan membesarkan mereka dengan baik bersama. Amin.

"Suka duka dipakai Nya untuk kebaikan ku"

Dibalik setiap masalah pasti tetap ada kebaikan terkandung didalamnya. Selama menjalani Isolasi Mandiri 3 minggu lebih, aku punya banyak waktu dengan anak-anakku. Mengajari putra sulungku untuk memiliki dan memahami kosa kata baru, melatihnya berbicara dan memahami setiap perkataan apalagi akhir bulan ini adalah ulang tahunnya yang mungkin akan hanya dirayakan oleh kami saja.

Aku juga bisa menyaksikan sendiri putri kecilku sudah belajar merayap dan mulai berlatih merangkak, bisa menyiapkan dan memberikan MPASI langsung dan sampai saat ini sih memang aku belum berani untuk "memompa ASI"ku lagi, jadi hanya melakukan DBF saja walaupun kata DSA nya aman tetap saja secara logika aku terinfeksi virus jika memompa ASI sama saja menimbun virus. Logika ku saja!

Hal yang paling menyedihkan adalah suami ku yang harus terpisah dengan kami. Jujur, kami tidak pernah terpisah jarak dan waktu yang cukup lama. Bahkan ketika aku harus berangkat dinas keluar kota, aku tetap membawa keluargaku turut serta selama itu masih bisa terjangkau oleh kendaraan dan tidak beresiko tinggi.

Suamiku hanya bisa melihat anak-anaknya dari balik pintu jeruji besi kami. Terkadang sore hari dia menjemput putra sulung kami untuk bermain dirumah tempatnya mengungsi sementara, dan memulangkan kembali setelah Maghrib. Putri kecil kami saja terkadang melihat Papi nya penuh rasa sedih ingin dipeluk tetapi aku hanya bisa melarangnya untuk sementara mengingat Papi juga masih bermobilitas tinggi berkeliaran diluar sana.

Cepat pulih ya Bumi. Cepat sehat semua yang sedang menjadi penyintas Covid 19. Tetap semangat dan berdamailah dengan keadaan. Yuk kita hanya bisa ikuti Protokol Kesehatan dan jangan lengah untuk terus menjaga kesehatan. Sehat itu sangat mahal harganya.

Comments