Jadi, beberapa hari yang lalu ada seorang kenalan berkeluh kesah denganku tentang "pernikahan" dikarenakan dia akan segera menikah ditahun ini.
Bagi orang bersuku Batak Toba, sinamot adalah mahar.
Terkadang beberapa keluarga yang merasa memiliki jabatan tinggi ketika menikahkan putrinya meminta mahar yang lumayan fantastis.
Jika kamu sanggup sih, why not ?
Tak jarang ada yang batal menikah dikarenakan tidak ditemukannya kesepakatan dalam menentukan harga sinamot.
Atau ada pula yang tetap melangsungkan pernikahan tetapi selama pernikahannya kedua keluarga saling menggerutu atau mengungkit.
Untuk keluargaku sendiri, Mama mengajarkan bahwa,
Jadi, sinamot atau mahar bukanlah harga diri atau harga seorang anak.
Kehidupan pernikahan bukanlah hal mudah, tapi tidak juga sulit.
Menikah itu fokus.
Apa sih fokusmu dalam pernikahan ?
Siapa sih fokusmu di pernikahanmu ini ?
Kenapa harus fokus ?
Bagaimana caranya agar fokus dalam pernikahan ?
Tidak ada pasangan manapun yang ahli dalam hal pernikahan.
Tidak pula ada yang paling sempurna.
Atau yang paling berbahagia bahkan, karena bahagia itu sendiri tidak dapat diukur oleh pandangan orang lain.
Ada yang merasa sebuah keluarga sudah sangat sempurna dan bahagia karena anak-anaknya sudah bekerja diperusahaan ternama.
Ada pula yang merasa tidak sempurna karena belum diberikan keturunan.
Jujur saja, ketika ku dan suamiku menantikan berkat keturunan, justru orang lain pula lah yang menentukan bahwa kami belum sempurna.
Bahkan ada pula yang menentukan bahwa kedua keluarga besar kami belum bahagia karena belum mendapatkan cucu dari pernikahan kami.
Sedangkan pada kenyataannya aku sendiri sangat menikmati pernikahanku kala itu karena masa pengenalan diri kami yang singkat hingga menikah.
Awal mulanya suami ku terbawa suasana dikarenakan faktor perkataan orang lain yang mempertanyakan berkat keturunan.
Selanjutnya berlanjut ke keluarga besar.
Akhirnya membuatku tertekan.
Tak lepas itu saja ketika hamil bahkan setelah melahirkan pun juga masih merasa tertekan karena omongan orang sekitar yang mempengaruhi rumah tangga kami.
Kesalahan kami adalah tidak bisa menentukan fokus pendengaran kami, siapa yang layak diperhatikan ucapannya mana yang diabaikan saja.
Hingga akhirnya suatu waktu, rumah tangga kami diuji, masalah financial yang disebabkan satu dan lain halnya.
Pernahkah setelah menikah saldo di tabungan kalian, Rp 0,- ?
Kami pernah.
Rumah tangga mana sih yang tidak pernah ada masalahnya ?
Apalagi masalah financial.
Hal itu menyebabkan rumah tangga kami dilewati dengan amarah, emosi, sakit hati, perkataan kasar yang benar-benar tidak membawa berkat, bahkan sempat terpikirkan untuk berpisah.
Menyesal, sungguh menyesal.
Itulah perasaanku kala itu.
Bahkan aku mengumpat suamiku sendiri.
Kami kehilangan damai sejahtera dalam rumah tangga kami.
Aku merasa lebih mampu daripada suamiku, aku bisa menghidupi diriku sendiri dan anakku.
Aku menjadi angkuh dan menyepelekan pasanganku sendiri.
Hingga akhirnya suatu waktu, tanpa diduga aku berkeluh kesah dengan saudari iparku.
Aku menceritakan duduk persoalan segala hal di hatiku yang terjadi dirumah tanggaku sendiri.
Tentu saja dari sudut pandang sebagai wanita dan istri, bahkan seorang ibu, dia ikut merasakan hal yang kurasakan.
Tapi entah mengapa aku tidak ingin dibela saat itu.
Aku ingin mencari jawaban, kenapa ini terjadi dirumahtangga kami.
Saudari iparku pun sempat menanyakan bagaimana perasaanku ?
Bahkan sempat bertanya apakah aku menyesal menikah dengan saudaranya.
Aku jawab dengan kejujuran hatiku, iya.
Akhirnya aku disadarkan bahwa aku harus "balikin hati" kami ke cinta mula-mula.
Cari apa akar permasalahannya, bukan siapa yang salah dan benar.
Aku dan pasangan hidupku adalah teman seumur hidup, bukan orangtua atau bahkan anak-anak sekalipun.
Semua hal yang terjadi dirumah tangga kami adalah cara Tuhan bekerja dalam hidup kami.
Maka ada perceraian karena suami dan istri tidak bisa menerima cara kerja Tuhan didalam hidupnya.
Benar disebuah pernikahan itu harus ada cinta.
Cinta apa adanya.
Membangun pernikahan itu harus dasarnya cinta dan kejujuran.
Membuat pernikahan bahagia dasarnya adalah ketulusan hati dan kesepakatan.
Malam itu aku menjumpai suamiku yang bahkan sudah sangat menderita dengan permasalahan di rumah tangga kami ini karena sikapku yang menyalahkannya atas kejadian yang menimpa rumahtangga kami.
Aku melihatnya ketakutan.
Putus asa.
Airmataku yang sudah tidak ada lagi setelah sekian lama pertengkaran kami itu karena emosi, tiba-tiba mengalir dan "aku harus menguatkannya, aku ini istrinya, aku yang harus ada disampingnya, hanya itu yang bisa ku lakukan".
Malam itu, kami berdoa bersama.
Memohon ampun kepada Tuhan atas ego kami sehingga tanpa disadari anaklah yang menjadi korban dalam pertengkaran kami ini.
Kami meminta damai sejahtera kembali untuk rumah tangga kami.
Kami saling mengampuni.
Hari itu juga, kami mulai berkomunikasi kembali setelah sebulan lebih kami mengeraskan hati.
Komunikasi adalah hal penting dalam rumah tangga.
Bicarakan apapun itu dengan pasanganmu disaat yang tepat.
Bicarakan tentang masa depan dan apa yang harus dilakukan dimasa mendatang.
Bicarakan apa saja yang membuat rumah tangga ini kembali berbahagia.
Hari itu juga kami kembali menentukan fokus kami.
Fokus bertanggung jawab untuk suami/istri dan anak-anak.
Fokus memperbaiki diri.
Fokus menentukan tujuan rumah tangga ini kemana.
Fokus untuk mendengarkan satu sama lain.
Fokus untuk mengasuh dan membesarkan anak-anak dengan baik dan sehat.
Fokus untuk menafkahi rumah tangga.
Setelah menikah, tanggung jawabmu adalah suami/istri dan anak-anak.
Tidak lagi kedua orang tua masing-masing.
Tidak lagi saudara masing-masing.
Tidak lagi gaya hidup masing-masing.
Perlahan-lahan kami belajar berdiskusi, mencari solusi untuk setiap permasalahan kami.
Perlahan-lahan kami memperbaiki hubungan rumah tangga kami.
Perlahan-lahan kami saling memperkatakan kebaikan untuk rumah tangga kami, yang sekaligus menjadi doa untuk kami sendiri.
Perlahan-lahan kami membangun harmonisasi, mencari kebahagiaan kami.
Mengingatkan bahwa kebahagiaan rumah tangga ini, kita sendirilah yang menentukan, bukan pandangan orang lain atau bahkan orang terdekat kita.
Kebahagiaan dalam pernikahan tidak diukur dari harta dan tahta, karena itu semua hanyalah bonus yang Tuhan ijinkan untuk rumah tangga kita.
Aku mempunyai prinsip bahwa "jika aku sudah memilih suatu hal sendiri, apapun yang terjadi nantinya aku harus dan sudah siap, karena itu pilihanku."
Jadi, ketika aku sudah memilih suamiku menjadi teman hidupku, maka segala sesuatu yang terjadi didalam rumah tangga kami adalah tanggung jawab kami berdua.
Bersedia mengasihi dan menghormati pasanganmu dengan setulus hati.
Bersedia menjadi Ayah/Ibu yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan.
Bersedia setia kepada pasanganmu dalam keadaan untung dan malang, diwaktu sehat dan sakit, diwaktu suka dan duka.
Kenapa aku menceritakan sedikit kisah rumah tanggaku sendiri yang bisa saja orang lain menganggap ini membuka aib rumah tangga sendiri.
Menurutku ini bukan aib, tapi hanya menjelaskan apa saja sih satu dari sekian banyaknya kisah dalam rumah tangga yang akan terjadi nanti.
Aku juga bukan ahli pernikahan, tapi setidaknya inilah sedikit caraku dalam mengatasi masalah dalam hubungan pasangan.
Jika ditanya saat ini apakah aku masih mencintai suamiku ?
Sangat.
Terkadang disaat dia tertidur lelap dan aku masih terbangun, aku melihat wajahnya dan tanpa sadar mendoakan dan menciumnya, "how I really love you" sambil airmataku berlinang.
It means a lot for me.
Kata itu berarti banyak untukku tidak saja hanya bukti aku begitu mengasihinya, tetapi bisa berarti maaf.
Lantas, bagaimana solusi yang ditawarkan untuk kenalanku tadi ?
Sederhana saja, aku menawarkan beberapa pilihan yaitu ;
berdiskusi untuk menunda pernikahan tahun ini hingga terpenuhi biaya untuk pernikahan yang pasanganmu inginkan, atau memutuskan untuk jujur bahwa kamu tidak memiliki kemampuan financial lebih sehingga jika dia tidak bisa menerima ya semua pun berakhir.
Pasti keputusan yang sulit apalagi hubungan yang sudah dijalin lama tidak bisa berakhir dengan mudah begitu saja.
"ah dasar itu ceweknya begitu banget sih, kok tega bener gak bisa pengertian"
Tidak ada yang salah ataupun benar dalam kisahnya.
Jaman sekarang memperoleh uang segar dengan mudah, bisa.
Tetapi menikah itu HARUS BAHAGIA kan ?
Jika tetap harus dilaksanakan dan harus dia, akankah kamu dan dia bahagia ?
"Aku kesal Kak, karena dia menuntut harus menikah seperti pernikahan milenial, yang menggunakan Wedding Organizer ternama, atau menggunakan rancangan gaun pernikahan yang terkenal. Sedangkan biaya untuk pernikahan sekarang cukup menguras tabungan, Kak. Aku sudah memberikannya pengertian, untuk apa terlalu mewah pesta sehari sedangkan dikemudian hari kita tersiksa karena tidak punya tabungan lagi. Belum lagi sinamotnya harus angka yang dia minta karena jabatan orangtuanya" curahan hatinya kala itu.
Terkadang beberapa keluarga yang merasa memiliki jabatan tinggi ketika menikahkan putrinya meminta mahar yang lumayan fantastis.
Jika kamu sanggup sih, why not ?
Tak jarang ada yang batal menikah dikarenakan tidak ditemukannya kesepakatan dalam menentukan harga sinamot.
Atau ada pula yang tetap melangsungkan pernikahan tetapi selama pernikahannya kedua keluarga saling menggerutu atau mengungkit.
Untuk keluargaku sendiri, Mama mengajarkan bahwa,
"Putriku bukanlah barang dagangan yang harus ditawar-tawar. Jika pihak pria hanya sanggup sekian, ya sekianlah. Tidak perlu ditawar-tawar. Bukan karena putriku murahan, tetapi karena itulah kesanggupan calon pasangan hidupnya saat itu. Dengan doa dikemudian hari, pasangan hidup putriku mampu bertanggungjawab akan kehidupan rumah tangga mereka kelak. Tidak ada sungut-sungut (gerutu), ataupun saling menyalahkan dikemudian hari."
Kehidupan pernikahan bukanlah hal mudah, tapi tidak juga sulit.
Pernah bertengkar dengan pasangan ?
Pernah
Pernah berbuat salah dengan pasangan ?
Tentu pernah.
Pernah membenci pasanganmu ?
Pernah.
Pernah terpikir menyesal menikahi pasanganmu ?
Pernah.
Menikah itu fokus.
Apa sih fokusmu dalam pernikahan ?
Siapa sih fokusmu di pernikahanmu ini ?
Kenapa harus fokus ?
Bagaimana caranya agar fokus dalam pernikahan ?
Tidak ada pasangan manapun yang ahli dalam hal pernikahan.
Tidak pula ada yang paling sempurna.
Atau yang paling berbahagia bahkan, karena bahagia itu sendiri tidak dapat diukur oleh pandangan orang lain.
Ada yang merasa sebuah keluarga sudah sangat sempurna dan bahagia karena anak-anaknya sudah bekerja diperusahaan ternama.
Ada pula yang merasa tidak sempurna karena belum diberikan keturunan.
Jujur saja, ketika ku dan suamiku menantikan berkat keturunan, justru orang lain pula lah yang menentukan bahwa kami belum sempurna.
Bahkan ada pula yang menentukan bahwa kedua keluarga besar kami belum bahagia karena belum mendapatkan cucu dari pernikahan kami.
Sedangkan pada kenyataannya aku sendiri sangat menikmati pernikahanku kala itu karena masa pengenalan diri kami yang singkat hingga menikah.
Awal mulanya suami ku terbawa suasana dikarenakan faktor perkataan orang lain yang mempertanyakan berkat keturunan.
Selanjutnya berlanjut ke keluarga besar.
Akhirnya membuatku tertekan.
Tak lepas itu saja ketika hamil bahkan setelah melahirkan pun juga masih merasa tertekan karena omongan orang sekitar yang mempengaruhi rumah tangga kami.
Kesalahan kami adalah tidak bisa menentukan fokus pendengaran kami, siapa yang layak diperhatikan ucapannya mana yang diabaikan saja.
Hingga akhirnya suatu waktu, rumah tangga kami diuji, masalah financial yang disebabkan satu dan lain halnya.
Pernahkah setelah menikah saldo di tabungan kalian, Rp 0,- ?
Kami pernah.
Rumah tangga mana sih yang tidak pernah ada masalahnya ?
Apalagi masalah financial.
Hal itu menyebabkan rumah tangga kami dilewati dengan amarah, emosi, sakit hati, perkataan kasar yang benar-benar tidak membawa berkat, bahkan sempat terpikirkan untuk berpisah.
Menyesal, sungguh menyesal.
Itulah perasaanku kala itu.
Bahkan aku mengumpat suamiku sendiri.
Kami kehilangan damai sejahtera dalam rumah tangga kami.
Aku merasa lebih mampu daripada suamiku, aku bisa menghidupi diriku sendiri dan anakku.
Aku menjadi angkuh dan menyepelekan pasanganku sendiri.
Hingga akhirnya suatu waktu, tanpa diduga aku berkeluh kesah dengan saudari iparku.
Aku menceritakan duduk persoalan segala hal di hatiku yang terjadi dirumah tanggaku sendiri.
Tentu saja dari sudut pandang sebagai wanita dan istri, bahkan seorang ibu, dia ikut merasakan hal yang kurasakan.
Tapi entah mengapa aku tidak ingin dibela saat itu.
Aku ingin mencari jawaban, kenapa ini terjadi dirumahtangga kami.
Saudari iparku pun sempat menanyakan bagaimana perasaanku ?
Bahkan sempat bertanya apakah aku menyesal menikah dengan saudaranya.
Aku jawab dengan kejujuran hatiku, iya.
Akhirnya aku disadarkan bahwa aku harus "balikin hati" kami ke cinta mula-mula.
Cari apa akar permasalahannya, bukan siapa yang salah dan benar.
Aku dan pasangan hidupku adalah teman seumur hidup, bukan orangtua atau bahkan anak-anak sekalipun.
Semua hal yang terjadi dirumah tangga kami adalah cara Tuhan bekerja dalam hidup kami.
Maka ada perceraian karena suami dan istri tidak bisa menerima cara kerja Tuhan didalam hidupnya.
Benar disebuah pernikahan itu harus ada cinta.
Cinta apa adanya.
Membangun pernikahan itu harus dasarnya cinta dan kejujuran.
Membuat pernikahan bahagia dasarnya adalah ketulusan hati dan kesepakatan.
Malam itu aku menjumpai suamiku yang bahkan sudah sangat menderita dengan permasalahan di rumah tangga kami ini karena sikapku yang menyalahkannya atas kejadian yang menimpa rumahtangga kami.
Aku melihatnya ketakutan.
Putus asa.
Airmataku yang sudah tidak ada lagi setelah sekian lama pertengkaran kami itu karena emosi, tiba-tiba mengalir dan "aku harus menguatkannya, aku ini istrinya, aku yang harus ada disampingnya, hanya itu yang bisa ku lakukan".
Malam itu, kami berdoa bersama.
Memohon ampun kepada Tuhan atas ego kami sehingga tanpa disadari anaklah yang menjadi korban dalam pertengkaran kami ini.
Kami meminta damai sejahtera kembali untuk rumah tangga kami.
Kami saling mengampuni.
Hari itu juga, kami mulai berkomunikasi kembali setelah sebulan lebih kami mengeraskan hati.
Komunikasi adalah hal penting dalam rumah tangga.
Bicarakan apapun itu dengan pasanganmu disaat yang tepat.
Bicarakan tentang masa depan dan apa yang harus dilakukan dimasa mendatang.
Bicarakan apa saja yang membuat rumah tangga ini kembali berbahagia.
Hari itu juga kami kembali menentukan fokus kami.
Fokus bertanggung jawab untuk suami/istri dan anak-anak.
Fokus memperbaiki diri.
Fokus menentukan tujuan rumah tangga ini kemana.
Fokus untuk mendengarkan satu sama lain.
Fokus untuk mengasuh dan membesarkan anak-anak dengan baik dan sehat.
Fokus untuk menafkahi rumah tangga.
Setelah menikah, tanggung jawabmu adalah suami/istri dan anak-anak.
Tidak lagi kedua orang tua masing-masing.
Tidak lagi saudara masing-masing.
Tidak lagi gaya hidup masing-masing.
Perlahan-lahan kami belajar berdiskusi, mencari solusi untuk setiap permasalahan kami.
"Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus" Filipi 4 : 19
Perlahan-lahan kami saling memperkatakan kebaikan untuk rumah tangga kami, yang sekaligus menjadi doa untuk kami sendiri.
Perlahan-lahan kami membangun harmonisasi, mencari kebahagiaan kami.
Pernikahanmu dikatakan berhasil jika pernikahanmu bahagia.
Mengingatkan bahwa kebahagiaan rumah tangga ini, kita sendirilah yang menentukan, bukan pandangan orang lain atau bahkan orang terdekat kita.
Kebahagiaan dalam pernikahan tidak diukur dari harta dan tahta, karena itu semua hanyalah bonus yang Tuhan ijinkan untuk rumah tangga kita.
Aku mempunyai prinsip bahwa "jika aku sudah memilih suatu hal sendiri, apapun yang terjadi nantinya aku harus dan sudah siap, karena itu pilihanku."
Jadi, ketika aku sudah memilih suamiku menjadi teman hidupku, maka segala sesuatu yang terjadi didalam rumah tangga kami adalah tanggung jawab kami berdua.
Bersedia mengasihi dan menghormati pasanganmu dengan setulus hati.
Bersedia menjadi Ayah/Ibu yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan.
Bersedia setia kepada pasanganmu dalam keadaan untung dan malang, diwaktu sehat dan sakit, diwaktu suka dan duka.
Kenapa aku menceritakan sedikit kisah rumah tanggaku sendiri yang bisa saja orang lain menganggap ini membuka aib rumah tangga sendiri.
Menurutku ini bukan aib, tapi hanya menjelaskan apa saja sih satu dari sekian banyaknya kisah dalam rumah tangga yang akan terjadi nanti.
Aku juga bukan ahli pernikahan, tapi setidaknya inilah sedikit caraku dalam mengatasi masalah dalam hubungan pasangan.
Jika ditanya saat ini apakah aku masih mencintai suamiku ?
Sangat.
Terkadang disaat dia tertidur lelap dan aku masih terbangun, aku melihat wajahnya dan tanpa sadar mendoakan dan menciumnya, "how I really love you" sambil airmataku berlinang.
It means a lot for me.
Kata itu berarti banyak untukku tidak saja hanya bukti aku begitu mengasihinya, tetapi bisa berarti maaf.
Lantas, bagaimana solusi yang ditawarkan untuk kenalanku tadi ?
Sederhana saja, aku menawarkan beberapa pilihan yaitu ;
berdiskusi untuk menunda pernikahan tahun ini hingga terpenuhi biaya untuk pernikahan yang pasanganmu inginkan, atau memutuskan untuk jujur bahwa kamu tidak memiliki kemampuan financial lebih sehingga jika dia tidak bisa menerima ya semua pun berakhir.
Pasti keputusan yang sulit apalagi hubungan yang sudah dijalin lama tidak bisa berakhir dengan mudah begitu saja.
"ah dasar itu ceweknya begitu banget sih, kok tega bener gak bisa pengertian"
Tidak ada yang salah ataupun benar dalam kisahnya.
Jaman sekarang memperoleh uang segar dengan mudah, bisa.
Tetapi menikah itu HARUS BAHAGIA kan ?
Jika tetap harus dilaksanakan dan harus dia, akankah kamu dan dia bahagia ?
Comments
Post a Comment