Skip to main content

PERNAH KECEWA SAMA PASANGAN ?

Kisah ini terinspirasi dari salah seorang sahabatku yang hanya ingin berbagi tanpa mengetahui identitasnya.

Tepat dipertengahan tahun 2019 lalu, aku mendapatkan chat dari sahabatku sewaktu kecil yang mungkin kami jarang bertemu apalagi sejak menikah dan hidup di kota berbeda.
"Tiba-tiba banget sih! But wait, kayaknya bisa deh, yaudah ketemuan ya." kataku menjawab ajakannya bertemu yang tiba-tiba disaatku sedang mendapat Surat Perintah Dinas dikotanya.

Mungkin karena kami sudah lama bersahabat, pembicaraan kami tidak lagi yang harus ada pembukaan atau kata sambutan untuk memulai sebuah topik pembicaraan serius.

Malam itu, sahabatku yang ku kenal begitu bahagia dengan rumah tangganya menurutku, ternyata...

"Astaga, ini mah lu nya kayak artis yang kelihatan fine aja di media eh ternyata bercerai juga, astaga" kataku masih tidak terima dengan topik ceritanya.

Benar kata orang, tidak ada rumah tangga yang selalu baik-baik saja.
Jikalaupun ada masalah, seharusnya kedua belah pihak bisa menarik kesimpulan bahwa hal yang terjadi di rumah tangganya adalah cara agar mengembalikan cinta mula-mula seperti pertama kali merasakan cinta dengan pasangannya waktu itu.

"Gue hanya tidak suka mengumbar kesedihan, Beb! Lu ta'u sendiri ya harusnya gue itu berbagi berkat, bukan masalah. Tapi memang kali ini gue gak bisa tahan lagi untuk gak berbagi, apalagi lu dateng dan bener-bener seperti jawaban doa gue, gue hanya butuh tempat untuk mengadu, tak perlu jawaban untuk masalah gue, tempat mengadu aja udah cukup buat gue" katanya terlihat tegar sambil menyeka airmatanya.

"Gue pernah hampir berniat mau bunuh diri kar'na gue udah gak tahan lagi. Nyesek! Mental gue down banget. Gue gak bisa berpikir lagi. Buntu! Tapi tiap gue lihat anak gue, gue harus hidup. Gue harus hidup untuk dia" katanya dengan gentar sambil airmatanya menetes.

Sebut saja suaminya, Boy, adalah seorang lelaki yang sudah menjalin hubungan pacaran dengannya hampir 4 tahun sampai akhirnya mereka menikah dan diberikan seorang putra.

Boy yang ku kenal juga adalah seorang pria yang baik hati, ramah, bahkan sangat penyayang apalagi kepada istri dan anaknya.

Tiga tahun sudah mereka menikah, hingga akhirnya Boy mengalami perubahan sikap sejak awal tahun 2019.

Boy yang baik hati dan ramah menjadi Boy yang pemarah dan tidak sabaran.

Memang, pernikahan adalah mata pelajaran yang tidak ada "tamat belajar"nya.

Awalnya menghadapi perubahan sikap Boy, sahabatku yang sebut saja Grace, selalu memotivasi dirinya bahwa "inilah sikap suamiku yang sebenarnya, mungkin saja dia bosan jadi aku harus lebih pengertian akan dirinya".

Grace sendiri adalah ibu rumah tangga, yang mendedikasikan dirinya untuk suami dan anaknya.
Grace sempat membuka bisnis kecil-kecilan untuk membantu financial keluarga, mengingat kebutuhan mereka di kota besar cukup mahal.
Putra mereka masih berumur 1,5 tahun.

Hari itu Boy pulang larut malam, sedangkan Grace kketiduran ketika menidurkan si kecil sehingga cukup lama untuknya membukakan pintu untuk Boy.
Boy sangat marah sampai membentak Grace sangat kasar, "kerjaanmu itu tidur mulu ya, telingamu pun budek apa sampai orang sudah teriak tak dengar!" katanya menirukan.

Grace langsung meminta maaf pada Boy atas kejadian itu, tetapi Boy tidak mempedulikannya.

Itu awal mula perubahan sikap Boy menurut Grace, sampai dengan banyaknya kejadian-kejadian sepele yang menjadi masalah besar untuk Boy sehingga harus membentak Grace yang terkadang dilakukannya didepan umum.

Grace bagaimana ? Kenapa tidak melawan ?

Grace yang ku kenal adalah wanita yang sangat sopan dan baik hati.
Dia sangat hormat kepada siapapun termasuk suaminya.
Grace menjunjung tinggi nilai-nilai agama bahwa suami adalah imam, pemimpin dirumah tangganya yang harus dihormati dan diutamakan.

Lima bulan sudah perubahan sikap Boy yang menjadi pemarah itu, hingga akhirnya semua hal ini terjawab, handphone milik Boy tertinggal dirumah sewaktu Boy berangkat ke kantor.

Mungkin seperti drama pada umumnya, Grace pun mengetahui bahwa Boy berselingkuh dan berhutang banyak pada orang lain karena membiayai kebutuhan perempuan lain yang menjadi selingkuhannya.

Bagai petir disiang bolong, hati Grace begitu sakit mengetahui hal itu.
Dia sempat tersungkur karena shock mengetahuinya tapi disadarkan oleh tangisan anaknya.
Memilukan ketika Grace memeluk anaknya yang menangis juga sambil menangis.
Hancur sudah hati Grace, "hanya ada kekecewaan dan kesakitan yang tidak ada obatnya, Beb!" katanya.

Grace mencoba untuk tetap menyadarkan dirinya bahwa itu belum bukti yang kuat jika dia tidak mendapati langsung.

Entah darimana keberanian Grace menurutku ketika dia berpikir untuk sesegera mungkin menyusul suaminya, berniat mengantarkan handphonenya ke kantor.
Tapi saat itu juga yang dia tak mendapati suaminya dikantor.
Grace pun mulai tidak tahu malu untuk bertanya-tanya kepada rekan kerjanya tentang suaminya.
Hingga dia pun bertemu dengan salah satu rekan Boy yang ternyata teman dekatnya dikantor.
Teman kerja Boy mengajak Grace ke kantin kantor yang sepi pengunjung karena sudah lewat jam istirahat kantor.

"Boy sekarang alihkan tugas ke abang, dek. Bukan alihkan tapi semacam abang jadinya yang membantu. Salah sih, karena jadinya abang menutupi kesalahannya, tapi gimana lagi, kami udah disini dari kami lajang, udah dekat. Dia banyak alasan yang ke bank lah, ke customerlah, ada  aja alasannya untuk sering cabut siang gini. Sampe waktu itu aku ngelihat dia di mall waktu abang cuti, sama si Maya (sebut saja), itu anak magang dulunya, terus diangkat cuma masih percobaan. Ku tanya sama dia kok setelah itu, dia marah kalau aku ikut campur, ya aku bilang aja ingat udah punya anak. Nah, dia berhutang ke teman lain karena si Maya ini anak orang kaya ya ta'u sendiri banyak jajannya mungkin kan. Ah mimpi apalah kau, dek, gak nyangka juga sih si Boy begitu, tapi kau harus bijaksana. Aku juga salah kar'na gak tegur langsung dan kasih ta'u kau juga, tapi ya ku harap kau mengertilah alasanku. Bijaksanalah kau ya dek. Kalau sabar udah hal biasa itu dibilangkan orang lain" kata Grace menirukan rekan kerja Boy menjelaskan padanya.

Grace pun mendapatkan tempat dimana Boy biasanya bepergian dengan Maya sewaktu siang hari, dan semuanya, pada hari itu juga terjawab sudah.
Grace mendapati Boy sedang mengantri tiket nonton bioskop.

"Kok bisa nonton dijam kerja sih?"
Usut punya usut, ternyata Maya adalah putri salah satu pejabat penting di kantor tempat Boy bekerja.
Maya sendiri terpaut 8 tahun perbedaan usia dengan Boy.
Maya, gadis yang cantik.
Maya ditempatkan magang dibagian tempat Boy bekerja, sehingga Maya ditugaskan untuk bekerja sama dengan Boy.
Boy awalnya tidak begitu tertarik dengan Maya karena pakaiannya yang 'terlalu ngasal' untuk dikenakan di kantor.
Tetapi dua minggu mengenal Maya, Boy justru semakin dekat dan sering kali terlibat dalam proyek yang sama sejak Maya langsung diangkat sebagai staf pembantu dibidang itu.

Jika orang lain berpikir dengan Grace sudah mengetahui apa yang terjadi dirumahtangganya sehingga memilih bercerai, salah.

Grace justru pergi kembali pulang dengan anaknya yang masih kecil, menunggu suaminya pulang dan mengajaknya berdiskusi malam itu juga.

Grace bertanya pada Boy apakah dia masih mencintai Grace seperti pertama kali mereka bertemu, dan Boy hanya terdiam.

Grace bertanya pada Boy apakah dengan berpisah akan menjamin Boy akan hidup bahagia dengan Maya dan tidak melakukan hal yang serupa pada Maya lagi, dan Boy masih terdiam.

Grace kembali bertanya pada Boy, apakah kamu tahu apa itu dosa kutuk turunan, dan siap jika putra mereka akan melakukan hal yang sama nantinya jika sudah menikah kepada istrinya dan orang lain akan berkata "wajar putra mereka begitu karena Ayahnya juga berselingkuh", Boy tertunduk.

Grace memberikan pilihan kepada Boy untuk menyelesaikan urusan perasaannya dengan Maya atau Boy berpisah dengan putranya dan sama sekali tidak ada hubungan apapun lagi.

Boy tetap terdiam dan tertunduk tidak menjawab apapun.

Grace menceritakan ini semua dengan perasaan kecewa dan sakit hati yang sangat dalam, aku yakin itu
Tapi Grace berbesar hati justru berkata, "aku hanya ingin berbagi dan mengadu saja, karena selain pada Tuhan, aku juga butuh support dari orang lain yang setidaknya tidak perlu mendikteku 'kenapa lu gak pisah sih', atau 'lu baik apa bego sih', aku hanya butuh tempat mengadu".

Aku hanya mendengarkan semua kisahnya dengan seksama, dan merespon dengan sangat hati-hati seperti kebiasaanku yang sudah mengenalnya sekian lama.

Grace sudah tidak menangis separah seperti dia saat pertama kali mengetahui hal buruk ini terjadi di rumah tangganya.
Grace hanya punya tatapan kekecewaan tapi dengan semangat tinggi untuk putranya.

Grace hanya mengingatkanku bahwa "jangan pernah menaruh harap lebih kepada manusia, Beb, sekalipun itu suami kita sendiri. Kar'na Tuhan bilang sendiri kalau kita berharap sama manusia hanya kekecewaan yang kita dapatkan. Selama ini gue merasa udah lama berpasangan jadi pasti semuanya aman aja. Tapi gue disini yang salah. Mungkin gue nya tidak merawat diri jadinya Boy melihat wanita yang lebih cantik. Atau guenya kurang perhatian ke dia, lebih sibuk ke anak sampai lupa ada suami juga yang butuh perhatian. Yang gue rasakan sekarang kekecewaan, tapi gue ditegur Tuhan  sih ini, kar'na gue itu lebih sayang sama manusia daripada Tuhan gue sendiri. Melihat Boy hanya mengingatkan gue apa itu kekecewaan, sakit hati yang gak ada obatnya. Tapi gue gak mau begini terus. Gue punya anak, dan dia butuh gue. Gue harus bahagia, biar anak gue bahagia. Gue gak mau kasih keluarga yang hancur untuk anak gue, makanya gue bertahan. Gue juga gak mau bercerai karena itu Tuhan gak suka. Gue hanya ingin Boy ta'u kalau dia itu masih suami gue, keputusannyalah yang menentukan rumah tangga kami. Kalau dia ternyata memilih egois, gue siap. Gue akan terima dengan hati yang lapang. Dan kalaupun Boy balik, gue juga harus siap, gak akan mudah kan menerima pengkhianatan, tapi gue harus siap demi anak gue."

Banyak yang menyayangkan keputusan Grace yang tidak langsung berpisah saja. Tapi alasan semua sikap Grace adalah demi kebahagiaan putranya walaupun akan menyakiti hatinya.

Pernah ku bercerita dengan salah satu rekanku mengenai hal ini tanpa mengungkapkan identitas sahabatku pastinya, dan dia hanya menjawabku, "setiap orang bebas dalam menentukan pilihan hidupnya, ada yang memilih tapi bukan untuk dirinya, ada pula yang memilih karena dirinya. Maksudnya memilih tapi bukan untuk dirinya adalah seperti Grace, dia memilih untuk bertahan demi anaknya yang seharusnya memiliki keluarga yang utuh. Sedangan jika memilih karena dirinya adalah jika Grace memilih berpisah karena dirinya tidak layak lagi mendampingi Boy menurutnya sehingga Boy berselingkuh, terkesan jadi akan selalu menyalahkan dirinya sendiri."

Jika ditanya padaku, apakah saran yang tepat untuknya ?
Aku tidak bisa menempatkan diriku diposisinya dengan cara berpikirnya, karena aku tidak menginginkan yang sama terjadi dikeluargaku.
Tapi saranku hanyalah berdiskusi dengan Boy dan Maya juga, sehingga saling introspeksi dan memahami bahwa mana yang utama diposisi mereka.
Tapi sepertinya hal itu tidak akan mungkin terjadi dihubungan perselingkuhan manapun.
Hanya keinginan yang kuat akan tanggung jawab utamanya dan kesadaran dirilah yang bisa memperbaiki.
Kunci rumah tangga bahagia itu adalah kejujuran.
Tidak ada hal yang menyenangkan jika kita jujur sebenarnya.
Tapi itu harus.
Kejujuran dan keterbukaan dalam hubungan suami istri paling utama, akan menular ke hubungan orangtua dan anak, dan berdampak baik dalam hubungan sekitar kita pula.

Kenapa sih memangnya harus jujur dan terbuka ?
Bukannya kesannya kita jadi ceplas ceplos dan terlalu vulgar bercerita kesiapapun ya ?

Ya ada hal yang perlu dibagikan terbuka ke umum dan orang lain, ada pula yang hanya konsumsi suami dan istri, ada juga yang hanya keluarga inti saja.
Kita harus pandai dong dalam memilahnya.

Dan kembali lagi, semua itu kalau tidak ada KASIH didalam setiap hubunganmu, tidak akan ada yang berjalan baik.
Setiap rumah tangga pasti ada kisahnya tersendiri, masalahnya tersendiri.
Kalau ada KASIH didalam hubungan rumah tangga itu, setiap masalah akan bermakna baik untuk rumah tangga itu sendiri, memperkokoh hubungan, menimbulkan kembali cinta mula-mula.

Walaupun untuk Grace sendiri sampai saat ini dia masih memberikan kesempatan kepada Boy yang memilih untuk kembali bersama Grace, tetap saja perasaan Grace setiap kali melihat Boy adalah rasa kecewa dan sakit, tapi Grace berjuang untuk mengampuni dirinya dan suaminya, menghadirkan KASIH dalam rumah tangganya lagi agar cinta mula-mula itu bersemi lagi, semua demi buah hati mereka.
Karena istri adalah tiang doa untuk rumahtangganya.

Aku juga bukan istri dan ibu yang sempurna, hanya saja lewat kisah Grace aku belajar untuk selalu membangun kepercayaan dirumahtangga itu atas Tuhan.
Kita tidak ta'u kapan masalah akan datang, tapi setidaknya kita punya "baju pelindung" yang menjamin kita tidak akan sakit nih kalau semuanya pakai Tuhan.
Masalah rumah tangga itu ada aja halnya.
Karena ini bukan hubungan pacaran yang dikecewakan bisa mudah untuk memilih berpisah mengganti pasangan.
Ini hubungan pernikahan yang sudah disatukan atas dasar Tuhan, apalagi sudah sampai dikaruniakan buah hati, jadi harus lebih berhati-hati dalam bertingkahlaku dan mengambil keputusan.

Pernah kecewa sama suami sendiri ?
Pernah.

Setelah itu aku belajar untuk mengampuni diriku lebih dulu.
Kita mengalami kekecewaan karena kita yang lebih dulu memiliki pengharapan lebih kepada manusia yang Tuhan sendiri sudah bilang kalau berharap pada manusia hanya akan mendapatkan kekecewaan.
Setelah itu aku minta pengampunan untuk rumah tanggaku, aku tidak mau ada kekecewaan dalam membangun rumah tangga yang bahagia, karena itu seperti virus yang hanya akan menyebar jika dibiarkan berlarut-larut.

Dan satu lagi adalah jangan pura-pura bahagia hanya untuk terlihat hebat di media-social.
Memang benar, kita tidak pula menggembar-gemborkan aib rumah tangga kita di media-social.
Tapi setidaknya jadilah diri sendiri yang terbaik untukmu, untuk suamimu dan untuk anak-anakmu, karena itulah fokus utama setelah berumahtangga.

Terimakasih untuk Grace yang ceritanya boleh aku bagikan disini sebagai bahan motivasi yang baik untuk kita semua.
Ambillah kebaikan yang ada didalam ini semua, karena pandangan baik dan buruk dalam memaknai suatu hal setiap orang berbeda-beda.


"Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." 1 Yohanes 2: 15-17

- RCN


Comments