Welcome to the world, my baby boy, Felix.
Kata orang, proses melahirkan adalah proses hidup baru lagi.
Sempat terpikirkan, "ah masa iya sih" dan akhirnya benar-benar aku merasakannya.
Kok baby boy, bukan boys ?
Puji Tuhan aku hanya dipercayakan untuk 1 bayi laki-laki karena bayi kembarku hanya selamat 1 bayi saja.
Kenapa ?
Sudah 3 hari aku pecah ketuban ternyata dan jika ingin menghakimi rasanya percuma karena kembali lagi aku diingatkan bahwa ini semua terjadi karena sudah diijinkan Tuhan ini harus aku alami.
Seharusnya jadwal konsultasi ke dokter esok harinya, tapi entah mengapa hari itu aku harus ke dokter karena perasaanku tidak tenang.
Benar saja, setibanya di dokter aku harus dioperasi malam itu juga karena kondisi janinku sudah kritis.
Jika mengingat itu kembali, rasa hatiku sangat sakit.
Rasa marah dan tidak terima kenyataan kenapa terlalu terlambat, coba saja jika aku melahirkan di Medan pasti aku akan ditangani oleh dokter yang lebih profesional.
Tapi kembali lagi, aku selalu meyakinkan diriku untuk terus bersyukur karena ini semua sudah Tuhan ijinkan terjadi dihidupku.
Tadinya keluargaku bahkan suami ingin menungguku sadar ketika memberitahukan bahwa hanya 1 bayi kami yang dapat diselamatkan, tetapi terlambat karena aku sudah mengetahuinya lebih dulu karena selama proses operasi aku sadar dan menyaksikan sendiri buah hatiku lahir kedunia dan salah satunya menghembuskan nafas terakhir.
Menangis, sampai detik ini masih teringat dan seringkali airmataku menetes mengingat hal itu.
"anakku,...." dalam hatiku selalu mengingatnya.
Seperti halnya anak kembar lainnya, Felix juga selalu terisak ketika tidur sepertiku ketika mengingat saudara kembar identiknya, Gamaliel nama yang ku berikan untuk anakku yang sudah menjadi malaikat kecil kami di surga.
Felix diangkat lebih dulu pukul 00:35 disusul dengan Gamaliel 10 menit kemudian.
Gamaliel menghembuskan nafas terakhirnya setelah diangkat oleh dokter dan memberitahukan bahwa Gamaliel tidak dapat diselamatkan karena sudah menelan air ketuban terlalu banyak.
Keadaanku saat itu bingung dan tidak percaya, tapi airmataku tidak keluar sama sekali.
Mungkin dokter takut aku histeris sehingga terjadi pendarahan, maka aku diberikan obat tidur karena setelah itu aku sama sekali tidak tahu apapun juga.
Percayalah, menulis cerita ini pun airmataku masih menetes mengingat anakku, malaikat kecilku, Gamaliel.
Mungkin orang-orang ingin merayakan kebahagiaanku sehingga belum juga tepat sehari aku melahirkan, tamu sudah berdatangan.
Tapi hatiku begitu kesal, tapi tidak berdaya aku untuk berbicara sehingga tatapanku sinis dan tidak 'welcome' dengan kedatangan orang.
Cukup jadi pelajaran bahwa seharusnya kita yang bertamu juga harus memberikan ruang istirahat bagi rekan atau teman atau saudara kita yang baru saja melahirkan, apalagi untuk kasus sepertiku yang baru melahirkan dan juga baru mendapat kemalangan.
Seharusnya orang sekelilingku lebih sadar dan lebih peka untuk itu.
Kembali lagi, aku hanya bisa membalas tatapan sinis dan tidak welcome ku untuk mereka karena mengapa tidak mengerti perasaanku dan keadaanku.
12 jam setelah kembali ke ruang rawat, Felix sudah dilepas untuk dapat tidur disampingku.
Perasaanku khawatir,"aku belum terbiasa, bagaimana ini? bagaiman merawat anak?"
Dan benar saja, kembali lagi cerita lainnya menghampiri bahwa ASI ku belum juga keluar.
Karena khawatir Felix terlalu lama menerima ASI, suami memutuskan untuk dibawa ke ruang perawatan bayi saja dan jadilah diberikan susu bantu menunggu ASI keluar.
Kembali lagi tekanan menghampiri bahkan hujatan karena ASI ku tak kunjung datang.
Kekecewaanku ketika orang terdekat bukannya mendukung dan memberi semangat, tetapi justru lebih memaksakan kehendak karena ASI ku tidak kunjung keluar, berbagai hujatan bahwa anakku akan bodoh lah, sistem kekebelan tubuhnya rendahlah karena tidak mendapatkan ASI.
Aku hanya bisa menangis dan percayakah bahwa aku sempat putus asa.
Tapi pelajaran lain untuk para calon ibu, atau bahkan kita sebagai rekan, teman atau saudara, kita harus mendukung dan memberi semangat, bukan menghujat "kenapa tidak keluar ASI nya?"
sedangkan ilmu pengetahuan saja karena proses melahirkanku belum cukup maka mempengaruhi untuk hadirnya ASI.
Tapi mereka mau ta'u kah untuk itu ?
Tidak.
Jahat, menurutku.
Pernah lagi ketika ASI ku sudah sedikit keluar, saudara bahkan teman datang melihatku memompa ASI ku yang masih berjuang untuk bisa menghasilkan banyak.
"ih sedikit sekali, beda sama si A ya banyak kasih ASI nya"
Hey, apakah semua orang berambut hitam akan memiliki pikiran dan jalan hidup yang sama juga ?
Aku hanya terdiam dan menangis.
Mereka ta'u apa ?
Baby blues kah ini ?
Bukan.
Ini tekanan pihak luar, sedangkan baby blues adalah perasaan dan pemikiran kita sendiri yang menekan kita.
Aku terus menerus menangis.
Sampai akhirnya aku melihat Mama yang sejak awal ku bolak-balik masuk rumah sakit selalu menemani, bahkan aku tersadar ketika Mama menggenggam tanganku ketika aku harus transfusi darah, dia bahkan tidak bisa tidur.
Dan suatu malam Mama ketika menemaniku memompa ASI ku, Mama menasehatiku untuk semua yang sudah aku alami.
"Itulah perjuangan seorang ibu, dek. Semua sakit dan perjuanganmu ini bagianmu, bagian orang lain berbeda lagi kisahnya. Sekarang yang paling terpenting itu kamu dan anakmu sehat dan panjang umur. Orang lain ta'u apa ? Kamu yang ta'u kebutuhan anakmu, suamimu sendiri pun tidak bisa menggantikan kamu sebagai ibu anakmu. Anakmu mau sedekat apapun dengan suamimu nantinya, yang dicarinya tetap ibunya. Kasih ibu sepanjang masa. Jadi penuhilah dia dengan kasihmu, tidak pun ASI kenapa memangnya ? Imani bahwa anakmu sehat dan lebih pintar dan bijaksana besarnya nanti."
Aku menangis sesenggukan, begitu sakitnya hatiku untuk banyaknya hujatan dan komentar orang lain, tapi apa yg disampaikan Mama benar.
Aku diberikan kepercayaan Tuhan seorang anak, kar'na Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk menjadi seorang ibu.
Masaan lebih mengutamakan pandangan orang lain daripada penilaian Tuhan.
Orang lain tidak sepertimu, dan mereka tidak berhak atas hidumpu dan anakmu.
I have many rules for my kids, dan salah satunya tidak ada yang berhak memarahi bahkan memukul bahkan mencubit anakku, bahkan berkata-kata "ah bodoh kali" atau "nakal ya", hanya aku, ibunya yang berhak, sekalipun ayahnya, tidak.
Semua kisah pilu dan menyakitkan, bahkan drama perkataan dan hujatan orang lain perlahan aku abaikan.
Bahkan aku sudah bisa 'melawan secara terhormat' untuk perkataan orang yang merendahkanku, sekalipun itu orang yang lebih tua, karena cara mendidik anak sekalipun pada jaman mereka berbeda dengan jaman sekarang.
Ambil sisi positif dan nilai kebaikannya, yang tidak bisa ditolerir bisa diabaikan saja.
Sampai saat ini, Felix tumbuh dengan banyak kasih dari kami, itu nomor 1, memenuhinya dengan kasih.
Selebihnya mengajarkannya itu bersyukur, menyayangi dan menghormati orang lain.
Kalau ditanya masih adakah komentar negatif orang lain, jelas masih ada.
Felix baru juga berumur 45 hari sudah ditanyakan "nanti tambah adeknya umur berapa?"
Bahkan terkadang ada saja yang membandingkan Felix dengan anak lain seusianya, "dulu waktu si A umur segini sudah bisa ini loh, ini Felix belum".
Duh, punya anak bukan untuk ajang persaingan atau perlombaan.
Belum pada usianya menghadirkan anak sekecil itu di persaingan yang tidak sehat.
Nanti, semua ada waktunya.
New chapter in my life is my new life.
Semua hal sudah ditetapkan Tuhan untuk terjadi dihidup kita.
Tuhan tidak berkata "berhasil menyelesaikan"masalah A, tapi Tuhan berkata "berhasil melewati" masalah A.
Kata orang, proses melahirkan adalah proses hidup baru lagi.
Sempat terpikirkan, "ah masa iya sih" dan akhirnya benar-benar aku merasakannya.
Kok baby boy, bukan boys ?
Puji Tuhan aku hanya dipercayakan untuk 1 bayi laki-laki karena bayi kembarku hanya selamat 1 bayi saja.
Kenapa ?
Sudah 3 hari aku pecah ketuban ternyata dan jika ingin menghakimi rasanya percuma karena kembali lagi aku diingatkan bahwa ini semua terjadi karena sudah diijinkan Tuhan ini harus aku alami.
Seharusnya jadwal konsultasi ke dokter esok harinya, tapi entah mengapa hari itu aku harus ke dokter karena perasaanku tidak tenang.
Benar saja, setibanya di dokter aku harus dioperasi malam itu juga karena kondisi janinku sudah kritis.
Jika mengingat itu kembali, rasa hatiku sangat sakit.
Rasa marah dan tidak terima kenyataan kenapa terlalu terlambat, coba saja jika aku melahirkan di Medan pasti aku akan ditangani oleh dokter yang lebih profesional.
Tapi kembali lagi, aku selalu meyakinkan diriku untuk terus bersyukur karena ini semua sudah Tuhan ijinkan terjadi dihidupku.
Tadinya keluargaku bahkan suami ingin menungguku sadar ketika memberitahukan bahwa hanya 1 bayi kami yang dapat diselamatkan, tetapi terlambat karena aku sudah mengetahuinya lebih dulu karena selama proses operasi aku sadar dan menyaksikan sendiri buah hatiku lahir kedunia dan salah satunya menghembuskan nafas terakhir.
Menangis, sampai detik ini masih teringat dan seringkali airmataku menetes mengingat hal itu.
"anakku,...." dalam hatiku selalu mengingatnya.
Seperti halnya anak kembar lainnya, Felix juga selalu terisak ketika tidur sepertiku ketika mengingat saudara kembar identiknya, Gamaliel nama yang ku berikan untuk anakku yang sudah menjadi malaikat kecil kami di surga.
Felix diangkat lebih dulu pukul 00:35 disusul dengan Gamaliel 10 menit kemudian.
Gamaliel menghembuskan nafas terakhirnya setelah diangkat oleh dokter dan memberitahukan bahwa Gamaliel tidak dapat diselamatkan karena sudah menelan air ketuban terlalu banyak.
Keadaanku saat itu bingung dan tidak percaya, tapi airmataku tidak keluar sama sekali.
Mungkin dokter takut aku histeris sehingga terjadi pendarahan, maka aku diberikan obat tidur karena setelah itu aku sama sekali tidak tahu apapun juga.
Percayalah, menulis cerita ini pun airmataku masih menetes mengingat anakku, malaikat kecilku, Gamaliel.
Mungkin orang-orang ingin merayakan kebahagiaanku sehingga belum juga tepat sehari aku melahirkan, tamu sudah berdatangan.
Tapi hatiku begitu kesal, tapi tidak berdaya aku untuk berbicara sehingga tatapanku sinis dan tidak 'welcome' dengan kedatangan orang.
Cukup jadi pelajaran bahwa seharusnya kita yang bertamu juga harus memberikan ruang istirahat bagi rekan atau teman atau saudara kita yang baru saja melahirkan, apalagi untuk kasus sepertiku yang baru melahirkan dan juga baru mendapat kemalangan.
Seharusnya orang sekelilingku lebih sadar dan lebih peka untuk itu.
Kembali lagi, aku hanya bisa membalas tatapan sinis dan tidak welcome ku untuk mereka karena mengapa tidak mengerti perasaanku dan keadaanku.
12 jam setelah kembali ke ruang rawat, Felix sudah dilepas untuk dapat tidur disampingku.
Perasaanku khawatir,"aku belum terbiasa, bagaimana ini? bagaiman merawat anak?"
Dan benar saja, kembali lagi cerita lainnya menghampiri bahwa ASI ku belum juga keluar.
Karena khawatir Felix terlalu lama menerima ASI, suami memutuskan untuk dibawa ke ruang perawatan bayi saja dan jadilah diberikan susu bantu menunggu ASI keluar.
Kembali lagi tekanan menghampiri bahkan hujatan karena ASI ku tak kunjung datang.
Kekecewaanku ketika orang terdekat bukannya mendukung dan memberi semangat, tetapi justru lebih memaksakan kehendak karena ASI ku tidak kunjung keluar, berbagai hujatan bahwa anakku akan bodoh lah, sistem kekebelan tubuhnya rendahlah karena tidak mendapatkan ASI.
Aku hanya bisa menangis dan percayakah bahwa aku sempat putus asa.
Tapi pelajaran lain untuk para calon ibu, atau bahkan kita sebagai rekan, teman atau saudara, kita harus mendukung dan memberi semangat, bukan menghujat "kenapa tidak keluar ASI nya?"
sedangkan ilmu pengetahuan saja karena proses melahirkanku belum cukup maka mempengaruhi untuk hadirnya ASI.
Tapi mereka mau ta'u kah untuk itu ?
Tidak.
Jahat, menurutku.
Pernah lagi ketika ASI ku sudah sedikit keluar, saudara bahkan teman datang melihatku memompa ASI ku yang masih berjuang untuk bisa menghasilkan banyak.
"ih sedikit sekali, beda sama si A ya banyak kasih ASI nya"
Hey, apakah semua orang berambut hitam akan memiliki pikiran dan jalan hidup yang sama juga ?
Aku hanya terdiam dan menangis.
Mereka ta'u apa ?
Baby blues kah ini ?
Bukan.
Ini tekanan pihak luar, sedangkan baby blues adalah perasaan dan pemikiran kita sendiri yang menekan kita.
Aku terus menerus menangis.
Sampai akhirnya aku melihat Mama yang sejak awal ku bolak-balik masuk rumah sakit selalu menemani, bahkan aku tersadar ketika Mama menggenggam tanganku ketika aku harus transfusi darah, dia bahkan tidak bisa tidur.
Dan suatu malam Mama ketika menemaniku memompa ASI ku, Mama menasehatiku untuk semua yang sudah aku alami.
"Itulah perjuangan seorang ibu, dek. Semua sakit dan perjuanganmu ini bagianmu, bagian orang lain berbeda lagi kisahnya. Sekarang yang paling terpenting itu kamu dan anakmu sehat dan panjang umur. Orang lain ta'u apa ? Kamu yang ta'u kebutuhan anakmu, suamimu sendiri pun tidak bisa menggantikan kamu sebagai ibu anakmu. Anakmu mau sedekat apapun dengan suamimu nantinya, yang dicarinya tetap ibunya. Kasih ibu sepanjang masa. Jadi penuhilah dia dengan kasihmu, tidak pun ASI kenapa memangnya ? Imani bahwa anakmu sehat dan lebih pintar dan bijaksana besarnya nanti."
Aku menangis sesenggukan, begitu sakitnya hatiku untuk banyaknya hujatan dan komentar orang lain, tapi apa yg disampaikan Mama benar.
Aku diberikan kepercayaan Tuhan seorang anak, kar'na Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk menjadi seorang ibu.
Masaan lebih mengutamakan pandangan orang lain daripada penilaian Tuhan.
Orang lain tidak sepertimu, dan mereka tidak berhak atas hidumpu dan anakmu.
I have many rules for my kids, dan salah satunya tidak ada yang berhak memarahi bahkan memukul bahkan mencubit anakku, bahkan berkata-kata "ah bodoh kali" atau "nakal ya", hanya aku, ibunya yang berhak, sekalipun ayahnya, tidak.
Semua kisah pilu dan menyakitkan, bahkan drama perkataan dan hujatan orang lain perlahan aku abaikan.
Bahkan aku sudah bisa 'melawan secara terhormat' untuk perkataan orang yang merendahkanku, sekalipun itu orang yang lebih tua, karena cara mendidik anak sekalipun pada jaman mereka berbeda dengan jaman sekarang.
Ambil sisi positif dan nilai kebaikannya, yang tidak bisa ditolerir bisa diabaikan saja.
Sampai saat ini, Felix tumbuh dengan banyak kasih dari kami, itu nomor 1, memenuhinya dengan kasih.
Selebihnya mengajarkannya itu bersyukur, menyayangi dan menghormati orang lain.
Kalau ditanya masih adakah komentar negatif orang lain, jelas masih ada.
Felix baru juga berumur 45 hari sudah ditanyakan "nanti tambah adeknya umur berapa?"
Bahkan terkadang ada saja yang membandingkan Felix dengan anak lain seusianya, "dulu waktu si A umur segini sudah bisa ini loh, ini Felix belum".
Duh, punya anak bukan untuk ajang persaingan atau perlombaan.
Belum pada usianya menghadirkan anak sekecil itu di persaingan yang tidak sehat.
Nanti, semua ada waktunya.
New chapter in my life is my new life.
Semua hal sudah ditetapkan Tuhan untuk terjadi dihidup kita.
Tuhan tidak berkata "berhasil menyelesaikan"masalah A, tapi Tuhan berkata "berhasil melewati" masalah A.
Comments
Post a Comment