Skip to main content

Kado Ulang Tahun ke 27 Tahun

Hari itu tepat tanggal 28 Desember 2018,
hari ulangtahun ku yang ke 27 tahun.
Kar'na masih cuti, jadilah melewatkan hari pergantian umur baru dirumah saja dengan suami.
Tepat pukul 8 pagi, Bapak dan Mama dari Medan menelepon untuk mengucapkan selamat pertambahan umur, dan kebetulan pula suami sedang keluar rumah sebentar.
Pagi itu perutku terasa keram dan sakit seperti masuk angin, dan pada saat Bapak bertelepon pun sudah mual muntah,
"Loh sakit dek? mana Simamora (suami)? Nantilah Bapak tel'fon lagi ya dek" ujar Bapak khawatir dari kejauhan.
 Mual dan muntah, kepala pusing, perut keram, ah lengkap sudah hampir seminggu dari tidak enak badan.

Iya, sejak menginap dirumah mertua untuk merayakan Natal, badan sudah terasa sakit semua, kepala sakit, badan lemas dan cepat lelah, sampai Inang Mertua (Ibu Mertua) khawatir aku kenapa-kenapa.
Malahan Inang Mertua sempat mengajakku berbelanja ke Pasar Tradisional kar'na mengingat besok hari mereka akan berangkat ke kampung tanpa kami kar'na melihatku sedang program hamil dan ditambah pula tiba-tiba kurang enak badan begitu.
Sepulangnya dari pasar pun badan terasa lelah, setelah meletakkan semua belanjaan aku malah ke kamar untuk tiduran.
"Sakit kamu, Nang? Sudah istirahatlah dulu, tapi Inang lihat badanmu kok berubah ya, apalagi pinggulmu, ah yang penting sehat-sehatlah ya, jangan terlalu capek ya," kata Inang terlalu khawatir sambil menyelimutiku dikamar.

Dan baru pertama kali dihari ulangtahun, hari bahagia malah sakit.
Ingin memutuskan untuk ke IGD kar'na takut kenapa-kenapa, kar'na sudah seminggu juga tidak enak badan.
Tapi perasaan "tidak bisa minum obat sembarangan" itu paling kuat dihatiku, dari dulu.
Akhirnya memutuskan, "daripada nanti ke dokter perutku ditekan-tekan dan dikasih obat sembarangan, mendingan testpack dulu deh, apalagi lagi program, daripada yaaaa," dalam hatiku.

Aku pun segera membongkar isi lemari kar'na mengingat ada sisa 1 testpack lagi disimpan.
Ketemu!
Untungnya sisa testpack ini merk yg bisa dicoba kapan aja hasilnya tetap akurat.
Jadilah ke toilet untuk langsung dicoba sesuai petunjuk penggunaannya.
Waktu di diamkan menunggu hasilnya, aku pergi ke dapur untuk menyiapkan bahan-bahan mau masak kar'na sebentar lagi suami pulang.
Eh teringat lagi coba testpack, langsung ke toilet lihat hasilnya.

Hasil Test 28 Desember 2018


Dan tadaaaaaaaaaa!
Hasilnya masih samar tetapi sudah menunjukkan ke arah hasil positif.
Perasaan saat itu?
Bingung.
Iya bingung mau berekspresi bagaimana, "Ya Tuhan Yesus, ini mimpi atau bagaimana?"
Mau bilang suami tapi mau buat kejutan.
Terdiam di sofa ruang tamu dengan penuh kebingungan apakah ini mimpi atau apa.
Akhirnya aku pun mengambil handphone dan whatsapp suami,
"Ayang, kamu dimana? Cepat pulang ya, sekarang,"

Dan 15 menit kemudian suami pun tiba dirumah, dan aku dengan posisi duduk didepan tv dengan wajah bingung tapi mau buat kejutan.

"Sayang, sini deh, cepatlah"
Suami pun menghampiriku,
"Sini deh duduk"
"Kamu kenapa sih" tanya suami heran dengan ekspresiku, khawatir,
"Lihat deh ini, (sambil menunjukkan testpack tadi)"


Dia pun terdiam,
"ini artinya apa yang? kamu hamil?" dia sambil senyum-senyum,
"iya itu lihat tandanya gimana?" kataku sambil senyum,

Dan dia pun memelukku, kami berdua menangis bersama.
Astaga, rasanya luar biasa.
Bingung, bahagia, sedih, terharu, semua campur aduk.

Kita pun berdoa bersama untuk mengucap syukur untuk kebaikan Tuhan, untuk kado dari Tuhan yang luar biasa ini.
Penantian 2 tahun, Tuhan berikan tepat dihari ulangtahunku.

Terpikirku apa saja kegiatanku di bulan Desember ini dan ternyata seminggu itu saja aku beraktifitas luar biasa.
Tanggal 27 Desember 2018, aku masih bepergian dengan teman-teman kantor untuk memeriksakan mata.
Bahkan aku menatah bayi berumur 1 tahun belajar berjalan sambil mengelilingi rumah sakit sambil menunggu antrian.
Sempat pula kami bepergian belanja ke Pasar Atas, melihat-lihat pakaian kar'na mau dipakai di malam tahun baru.
Ah, banyak hal yang dilakukan yang sebenarnya sudah tidak enak badan tetapi masih bernafsu untuk jalan-jalan.

Hari itu setelah ta'u aku hamil, aku dan suami langsung telepon kedua orangtua di Medan dan mertuaku di Padang Panjang, juga ipar di Depok dan Bogor.
How really happy they are.
Apalagi saudari iparku yang di Depok juga sedang berbadan dua.
Betapa besarnya berkat Tuhan untuk keluarga besar kami.

Kabar bahagia ini pun kusampaikan kepada sahabat-sahabatku.
Waktu untuk berkat Tuhan itu berbeda-beda di tiap orang, tidak ada yang sama waktu Nya untukmu.
Ada yang baru menikah sebulan, langsung diberikan kesempatan berkat keturunan.
Ada yang sudah berpuluh tahun menikah tetapi masih belum juga diberikan berkat keturunan.

Tetapi terkadang ada beberapa orang yang merasa berkatnya selalu tepat waktu jadi tidak menghargai perasaan orang yang disuruh Tuhan untuk tetap menunggu berkat Nya.
Sehingga membuat rasa minder, sedih bahkan ada yang menjadi pendiam dan pemarah kar'na menyimpan sakit hati.

Makanya. untuk semua sahabat-sahabatku,
bahwa aku adalah salah satu contoh yang mendapat berkat Tuhan itu bukan sesuai dengan waktu yang aku mau.
Aku harus menunggu.

Ya, hidup ini memang hanya menunggu, dan prosesnya adalah tetap berusaha dan tetap berdoa.

Setelah hamil ini pun aku tetap menunggu, menunggu masa persalinan.
Selama proses menunggu pun berusaha untuk menjaga agar kehamilan sehat-sehat, dan semuanya tetap dibawa dalam doa.

"Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" - Roma 12 : 12

- Ryen Chrismery

Comments