I really dunno judul apa yang tepat untuk tulisan saya kali ini.
Tetapi saya ingin berbagi pengalaman tentang kisah cinta saya yang banyak orang bertanya-tanya bagaimana bisa, lols.
Yes, here I am with my lovely husband, Albert.
He is the one that God gives to me.
The best one I think.
Dulu saya sangat anti dengan pria dengan berstatus pekerjaan 'pengabdi negara', yes you know jenis pekerjaan apa itu.
Menurut saya, itu pekerjaan yang membuat saya harus selalu siap sedia jika ditinggalkan kar'na urusan kedinasan.
Yes, I'm not ready.
Sebelumnya saya sempat berpacaran hampir 4 tahun dengan seorang lelaki sejak kita kuliah.
Tetapi saya yakin bahwa Tuhan menegur saya ketika "saya terlalu mencintai hal yang Dia titipkan daripada Tuhan saya sendiri, Dia Allah yang cemburu", yes, kita mengakhiri hubungan dengan tidak baik, perselingkuhan.
For all that girls diluar sana, remember that bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang cemburu, jangan terlalu mencintai pasanganmu lebih dari engkau mencintai Tuhan mu.
Kecewa? Tidak. That's my fault.
Kesedihan saya adalah ketika begitu baiknya jalinan / hubungan kekeluargaan yang kita bina bertahun-tahun harus berakhir.
It's so hurt me, when I memilih untuk "oke, saya harus move on, saya tidak bisa hidup dengan lelaki yang tidak bisa setia, prinsip," dan saya pun melangkah maju tanpa memandang kebelakang lagi.
I really know untuk semua perempuan yang baru putus cinta, bukan hal yang mudah untuk move on apalagi dengan waktu berpacaran yang cukup matang dan dengan kondisi masing-masing keluarga yang sudah saling mengenal, dan juga banyaknya harapan yang sudah dijanjikan.
It's not easy, I know it.
Tetapi kembali lagi ke prinsip, hidup ini terus maju, tidak bisa mundur, tidak bisa menyesali.
Ada yang pernah bertanya, "Jadi kamu tidak marah ke selingkuhannya atau mantan kamu itu?"
Marah, pasti.
Saya juga manusia biasa.
Tetapi saya hanya sampaikan ke perempuan itu "silahkan mengambil mantan saya, tetapi percayalah, sampai kapanpun hati keluarganya hanya untukku,"
Dan saya belajar untuk mengampuni dan mendoakan yang terbaik untuk mereka, tidak ingin memenuhi hati dengan kebencian dan kepahitan, sambil berpamitan dengan keluarga mereka saya pun memulai hidup baru.
Thank you, next.
Dua bulan setelah kejadian, salah satu sahabat saya sewaktu diklat di instansi ini yang kebetulan mendapat penempatan di Bukittinggi, Sumatera Barat, mengenalkan saya dengan si abang.
Jauh ya bahkan diluar dugaan bisa kesasar ke kota ini.
"Duh, polisi" dalam hati, tapi tak apa lah, ingat harus membuka diri.
Si abang benar-benar terlatih "pantang mundur", tiap hari tiap saat menanyakan kabar, telepon, video call, duh, awalnya risih, ini cowok benar-benar gencatan senjata ya.
Sampai tepat di Desember 2015, si abang berkunjung ke Medan dan aku menghindarinya dengan banyak alasan, dinas keluar kota.
Jahatnya aku saat itu, tetapi penyesalan saat ini dan jadi cerita lucu untuk kita berdua.
Selain si abang, banyak lelaki yang dikenalkan ke saya oleh teman-teman kantor, kar'na berpikir kemana lagi bisa menemukan jodoh kalau tida dikenalin orang, apalagi dengan status pekerjaan saya dan jobdesk saya sebagai seorang Sekretaris, "malu dong kalau tidak punya gandengan".
Membuka diri, menyiibukkan diri, kuliah, karir, berlibur, bersenang-senang, meluangkan waktu dengan keluarga, saya melatih diri saya untuk hidup mandiri.
Mulai dari lelaki yang bekerja di salah satu bank, lelaki lainnya di bank lainnya, lelaki kontraktor, bahkan salah satu anggota dewan perwakilan, semua diterima dengan hati terbuka, tetapi tak juga menerima.
Hingga suatu waktu, di tahun 2016, saya dikenalkan oleh sepupu saya dengan salah seorang lelaki yang bekerja di kantor pajak di daerah Palembang.
Oke kita mulai perkenalan kita, komunikasi pun berlangsung dengan baik.
Hingga akhirnya, keluarga kedua pihak saling memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, pernikahan.
Lelaki ini pun berkunjung ke Medan sekaligus bersilahturahmi.
Gosh. Hati pun berubah haluan.
Ada yang tidak mengenakkan hati kala itu, ternyata benar, lelaki yang yang tidak suka kalau calon inang mertua (ibu mertua) nya "cerewet" katanya.
What! Dia bilang Mama ku cerewet, berani amat ini orang.
Selain itu, adikku juga sudah mewanti-wanti kar'na beliau ini terkesan sombong dan angkuh, tidak cocok denganku yang friendly, periang dan grasak-grusuk.
Singkat cerita, harapan orangtua si lelaki pun saya tolak dengan halus mengingat si lelaki yang tidak bisa menghargai keluarga saya, dan mengingat saya sempat diteror dengan 'jodoh ta'aruf'nya katanya yang diam-diam menulis blog juga yg isinya menyatakan bahwa "biarlah dia bersama dengan wanita itu (saya), itu hanya ujian untuk cinta kami, bahwa Tuhan menguji kami", oke sip.
Dan, 2 jam setelah memutuskan hubungan, dan detik kesekian saya buka (waktu itu masih) BBM dan cari semua kontak lelaki yang tempo lalu mengucapkan Happy Valentine's Day.
Mikir, kalau tidak salah namanya Albert.
Eh, ada 2 nama Albert, satu si abdi negara, satu lagi si anggota dewan.,
"yaudahlah di chat aja deh keduanya"
"Hai bang, apa kabar?" - Ryen
Kalau kalian yang membaca ini sambil tertawa dan senyum-senyum, berarti kalian ta'u perasaanku saat itu, harap harap cemas Albert mana yg balas.
Dan...............................
Albert si abdi negara yang membalas dan pantang kasih kendor cyin.
Sepanjang hari benar-benar chat, teleponan, seperti 1,5 tahun yang lalu.
Dan entah kenapa hati ini menerima dengan senang hati, berbeda dengan waktu lalu, mungkin kar'na baru putus cinta kali ya.
Seminggu pendekatan, tanpa basa-basi terlalu lama saya pun menyampaikan bahwa saya tidak ingin membuang waktu dengan berpacaran seperti anak sekolahan yang tidak ada tujuannya.
Si abang juga ternyata berpikiran yg sama.
Astaga, jodohku!
Puji Tuhan, ini namanya bersabar dalam kesesakan, maka semua indah pada waktu Nya.
Abang pun berangkat ke Medan pertama kali bertemu untuk berkenalan langsung.
Malu malu mau.
Tidak lama menunggu, 2 minggu kemudian pun kita memutuskan untuk serius dan melangkah ke jenjang selanjutnya.
Abang menemui kedua orangtua ku yang sebelumnya tidak pernah aku bercerita siapa lelaki yang tengah dekat denganku, ekspresi kaget.
Dan mereka pun sepenuhnya memberikan pilihan itu kepadaku, apakah melanjutkan atau tidak.
"dalam nama Yesus, iya mau" kataku malu-malu.
Oktober 2016 pun kami menikah, setelah banyaknya persiapan dan lain-lainnya.
Menikah itu tidak mudah loh, berbeda ketika berpacaran.
Kalau ketika pacaran bertengkar bisa minta putus seenak jidat, kalau sudah menikah bertengkar harus berusaha bagaimana agar tidak ketahuan keluarga bahkan tetangga.
Menikah itu awal mula hidup baru.
Tidak melulu dengan menikah langsung hamil.
Tidak melulu dengan menikah langusng punya anak.
Tidak melulu dengan menikah semuanya baik-baiknya saja seperti postingan artis-artis.
Tidak melulu dengan menikah semua keluarga akan berperilaku sama ketika kamu masih hanya "teman" pasanganmu.
Puji Tuhan, saya mendapatkan hadiah dari semua kesabaran akan kesesakan saya selama 2 tahun terakhir (hingga menikah), suami yang sangat baik (dalam nama Yesus), kedua mertua yang begitu menyayangi saya dan begitu baik, saudara-saudara ipar saudari ipar yang begitu akrab dan baik hati, keluarga yang begitu hangat.
"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." - Yeremia 28 : 11
Hidup terus berjalan, semua kisah dimasa lalu menjadikanku wanita yang kuat dan penuh kesabaran, bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki jika itu bukan hak kita, tetapi percayalah ada hal lain yang Tuhan gantikan sebagai hak kita, yang pastinya yang terbaik daripada yang kita pikirkan.
- Ryen Chrismery
Tetapi saya ingin berbagi pengalaman tentang kisah cinta saya yang banyak orang bertanya-tanya bagaimana bisa, lols.
Yes, here I am with my lovely husband, Albert.
He is the one that God gives to me.
The best one I think.
Dulu saya sangat anti dengan pria dengan berstatus pekerjaan 'pengabdi negara', yes you know jenis pekerjaan apa itu.
Menurut saya, itu pekerjaan yang membuat saya harus selalu siap sedia jika ditinggalkan kar'na urusan kedinasan.
Yes, I'm not ready.
Sebelumnya saya sempat berpacaran hampir 4 tahun dengan seorang lelaki sejak kita kuliah.
Tetapi saya yakin bahwa Tuhan menegur saya ketika "saya terlalu mencintai hal yang Dia titipkan daripada Tuhan saya sendiri, Dia Allah yang cemburu", yes, kita mengakhiri hubungan dengan tidak baik, perselingkuhan.
For all that girls diluar sana, remember that bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang cemburu, jangan terlalu mencintai pasanganmu lebih dari engkau mencintai Tuhan mu.
Kecewa? Tidak. That's my fault.
Kesedihan saya adalah ketika begitu baiknya jalinan / hubungan kekeluargaan yang kita bina bertahun-tahun harus berakhir.
It's so hurt me, when I memilih untuk "oke, saya harus move on, saya tidak bisa hidup dengan lelaki yang tidak bisa setia, prinsip," dan saya pun melangkah maju tanpa memandang kebelakang lagi.
I really know untuk semua perempuan yang baru putus cinta, bukan hal yang mudah untuk move on apalagi dengan waktu berpacaran yang cukup matang dan dengan kondisi masing-masing keluarga yang sudah saling mengenal, dan juga banyaknya harapan yang sudah dijanjikan.
It's not easy, I know it.
Tetapi kembali lagi ke prinsip, hidup ini terus maju, tidak bisa mundur, tidak bisa menyesali.
Ada yang pernah bertanya, "Jadi kamu tidak marah ke selingkuhannya atau mantan kamu itu?"
Marah, pasti.
Saya juga manusia biasa.
Tetapi saya hanya sampaikan ke perempuan itu "silahkan mengambil mantan saya, tetapi percayalah, sampai kapanpun hati keluarganya hanya untukku,"
Dan saya belajar untuk mengampuni dan mendoakan yang terbaik untuk mereka, tidak ingin memenuhi hati dengan kebencian dan kepahitan, sambil berpamitan dengan keluarga mereka saya pun memulai hidup baru.
Thank you, next.
Dua bulan setelah kejadian, salah satu sahabat saya sewaktu diklat di instansi ini yang kebetulan mendapat penempatan di Bukittinggi, Sumatera Barat, mengenalkan saya dengan si abang.
Jauh ya bahkan diluar dugaan bisa kesasar ke kota ini.
"Duh, polisi" dalam hati, tapi tak apa lah, ingat harus membuka diri.
Si abang benar-benar terlatih "pantang mundur", tiap hari tiap saat menanyakan kabar, telepon, video call, duh, awalnya risih, ini cowok benar-benar gencatan senjata ya.
Sampai tepat di Desember 2015, si abang berkunjung ke Medan dan aku menghindarinya dengan banyak alasan, dinas keluar kota.
Jahatnya aku saat itu, tetapi penyesalan saat ini dan jadi cerita lucu untuk kita berdua.
Selain si abang, banyak lelaki yang dikenalkan ke saya oleh teman-teman kantor, kar'na berpikir kemana lagi bisa menemukan jodoh kalau tida dikenalin orang, apalagi dengan status pekerjaan saya dan jobdesk saya sebagai seorang Sekretaris, "malu dong kalau tidak punya gandengan".
Membuka diri, menyiibukkan diri, kuliah, karir, berlibur, bersenang-senang, meluangkan waktu dengan keluarga, saya melatih diri saya untuk hidup mandiri.
Mulai dari lelaki yang bekerja di salah satu bank, lelaki lainnya di bank lainnya, lelaki kontraktor, bahkan salah satu anggota dewan perwakilan, semua diterima dengan hati terbuka, tetapi tak juga menerima.
Hingga suatu waktu, di tahun 2016, saya dikenalkan oleh sepupu saya dengan salah seorang lelaki yang bekerja di kantor pajak di daerah Palembang.
Oke kita mulai perkenalan kita, komunikasi pun berlangsung dengan baik.
Hingga akhirnya, keluarga kedua pihak saling memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, pernikahan.
Lelaki ini pun berkunjung ke Medan sekaligus bersilahturahmi.
Gosh. Hati pun berubah haluan.
Ada yang tidak mengenakkan hati kala itu, ternyata benar, lelaki yang yang tidak suka kalau calon inang mertua (ibu mertua) nya "cerewet" katanya.
What! Dia bilang Mama ku cerewet, berani amat ini orang.
Selain itu, adikku juga sudah mewanti-wanti kar'na beliau ini terkesan sombong dan angkuh, tidak cocok denganku yang friendly, periang dan grasak-grusuk.
Singkat cerita, harapan orangtua si lelaki pun saya tolak dengan halus mengingat si lelaki yang tidak bisa menghargai keluarga saya, dan mengingat saya sempat diteror dengan 'jodoh ta'aruf'nya katanya yang diam-diam menulis blog juga yg isinya menyatakan bahwa "biarlah dia bersama dengan wanita itu (saya), itu hanya ujian untuk cinta kami, bahwa Tuhan menguji kami", oke sip.
Dan, 2 jam setelah memutuskan hubungan, dan detik kesekian saya buka (waktu itu masih) BBM dan cari semua kontak lelaki yang tempo lalu mengucapkan Happy Valentine's Day.
Mikir, kalau tidak salah namanya Albert.
Eh, ada 2 nama Albert, satu si abdi negara, satu lagi si anggota dewan.,
"yaudahlah di chat aja deh keduanya"
"Hai bang, apa kabar?" - Ryen
Kalau kalian yang membaca ini sambil tertawa dan senyum-senyum, berarti kalian ta'u perasaanku saat itu, harap harap cemas Albert mana yg balas.
Dan...............................
Albert si abdi negara yang membalas dan pantang kasih kendor cyin.
Sepanjang hari benar-benar chat, teleponan, seperti 1,5 tahun yang lalu.
Dan entah kenapa hati ini menerima dengan senang hati, berbeda dengan waktu lalu, mungkin kar'na baru putus cinta kali ya.
Seminggu pendekatan, tanpa basa-basi terlalu lama saya pun menyampaikan bahwa saya tidak ingin membuang waktu dengan berpacaran seperti anak sekolahan yang tidak ada tujuannya.
Si abang juga ternyata berpikiran yg sama.
Astaga, jodohku!
Puji Tuhan, ini namanya bersabar dalam kesesakan, maka semua indah pada waktu Nya.
Abang pun berangkat ke Medan pertama kali bertemu untuk berkenalan langsung.
Malu malu mau.
Tidak lama menunggu, 2 minggu kemudian pun kita memutuskan untuk serius dan melangkah ke jenjang selanjutnya.
Abang menemui kedua orangtua ku yang sebelumnya tidak pernah aku bercerita siapa lelaki yang tengah dekat denganku, ekspresi kaget.
Dan mereka pun sepenuhnya memberikan pilihan itu kepadaku, apakah melanjutkan atau tidak.
"dalam nama Yesus, iya mau" kataku malu-malu.
Oktober 2016 pun kami menikah, setelah banyaknya persiapan dan lain-lainnya.
Menikah itu tidak mudah loh, berbeda ketika berpacaran.
Kalau ketika pacaran bertengkar bisa minta putus seenak jidat, kalau sudah menikah bertengkar harus berusaha bagaimana agar tidak ketahuan keluarga bahkan tetangga.
Menikah itu awal mula hidup baru.
Tidak melulu dengan menikah langsung hamil.
Tidak melulu dengan menikah langusng punya anak.
Tidak melulu dengan menikah semuanya baik-baiknya saja seperti postingan artis-artis.
Tidak melulu dengan menikah semua keluarga akan berperilaku sama ketika kamu masih hanya "teman" pasanganmu.
Puji Tuhan, saya mendapatkan hadiah dari semua kesabaran akan kesesakan saya selama 2 tahun terakhir (hingga menikah), suami yang sangat baik (dalam nama Yesus), kedua mertua yang begitu menyayangi saya dan begitu baik, saudara-saudara ipar saudari ipar yang begitu akrab dan baik hati, keluarga yang begitu hangat.
"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." - Yeremia 28 : 11
Hidup terus berjalan, semua kisah dimasa lalu menjadikanku wanita yang kuat dan penuh kesabaran, bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki jika itu bukan hak kita, tetapi percayalah ada hal lain yang Tuhan gantikan sebagai hak kita, yang pastinya yang terbaik daripada yang kita pikirkan.
- Ryen Chrismery
Comments
Post a Comment