"Sudah lebih setahun menikah kok belum punya anak, menunda ya?"
I really hate people who ask me like that.
"Duh, ta'u apa sih lo hidup gue?"
Sering kali di postingan instagram saya menyuarakan kekesalan akan pertanyaan orang-orang yang merasa penasaran sebenarnya mengapa Ryen belum punya anak.
Ingin rasanya berteriak, "tanya Tuhan lah sana, kalau udah dapet jawaban bilang aku ya!"
I really really hate them.
Apa harus semua yang saya lakukan diinformasikan kesemua orang, harus di posted biar semua orang ta'u apa saja usaha kita, apa saja cara kita untuk punya anak.
Stres.
Iya, saya yang stres.
"Bagaimana mau punya anak kalau dibuat stres sama kalian!" ingin teriakkan itu ke muka kalian.
Mungkin kalian hanya sebagian orang beruntung yang menikah langsung dianugerahkan berkat keturunan diusia muda pernikahannya.
Tetapi pernahkah kalian berpikir perasaan orang yang belum beruntung seperti kalian?
Pernahkah kalian memposisikan diri kalian seperti orang yang belum beruntung seperti kalian?
Jahat.
Iya, itu adalah orang paling jahat yang saya temui.
Usia pernikahan 1 tahun saya lewati dengan bahagia, kita bersabar dan saling mendukung.
Keluarga besar juga seperti itu.
Sangat mendukung dan tidak pernah complain.
Tiba diusia 1,5 tahun pernikahan, saya mulai mengalami sakit yang tidak pernah saya duga akan saya idap, kista.
Saya sempat hamil, tetapi hamil diluar kandungan.
Itulah yang berkembang menjadi kista jika tidak dibersihkan.
Apa perasaan kalian ketika mengetahui itu ?
Merasa bersalah? Pasti tidak.
Banyak cara alternatif kita lakukan.
Pemijatan alternatif dari yang termurah sampai yang termahal, itu sudah kita lakukan.
Suami saya tipe yang lebih ke pengobatan tradisional, sedangkan saya orang yang lebih ke pengobatan modern, dokter obgyn.
Saya tidak pernah percaya dengan hal-hal diluar kehendak Tuhan, seperti menduakan Tuhan.
Tetapi kar'na saya ingin tetap patuh kepada suami saya, saya mengikuti setiap hal yang dianjurkannya, kar'na saya ta'u itulah kerinduan hatinya.
Bahkan mertua saya sempat menganjurkan ke salah satu pemilik distributor susu dari Canada, kar'na salah satu kerabat mertua sudah hamil pasca berkunjung ke tempat yang dianjurkan.
No, I only trust my God.
Tetapi itu perintah mertua, saya harus patuh.
Ketika itu saya sudah operasi laparaskopi kista.
Beliau mengatakan bahwa saya tidak bisa punya anak jika termin menstruasi saya tidak 28 hari.
"What! Memangnya Anda Tuhan!"
Hati saya menolak untuk itu, sepanjang malam saya hanya menyanyikan lagu rohani.
Saya ceritakan ke mertua saya perasaan saya, dan puji Tuhan beliau tetap mendukung segala keputusan saya.
Suatu malam saya berdoa sambil menangis,
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." - Matius 7 : 7-8
Saya ingat sekali ketika Tuhan menegur saya bahwa saya terlalu mengandalkan diri saya sendiri dalam setiap rencana di hidup saya dan suami saya.
Saya terlalu mengandalkan manusia untuk hal yang Tuhan lebih berkuasa untuk itu semua.
Saya mulai ajar diri saya sendiri untuk memulai hidup baru, mulai lagi saat teduh, memulai lagi untuk mengandalkan Tuhan Yesus dalam segala rencana kami.
Setiap hari mengajak suami untuk doa pagi bersama dan menutup hari dengan doa malam.
Melatih diri, bahwa semua ini belum tekun kami lakukan.
Pasca operasi dokter memang sudah menganjurkan untuk langsung bayi tabung atau inseminasi kar'na mengingat tingkat kesuburan saya, bisa memicu penyakit muncul lagi sebelum hamil.
Tiga bulan "dipukul" lagi untuk belajar ikut maunya Tuhan, akhirnya kita memutuskan untuk inseminasi.
Inseminasi, adalah proses pembuahan dengan cara memasukkan sperma ke dalam rahim.
I really hate people who ask me like that.
"Duh, ta'u apa sih lo hidup gue?"
Sering kali di postingan instagram saya menyuarakan kekesalan akan pertanyaan orang-orang yang merasa penasaran sebenarnya mengapa Ryen belum punya anak.
Ingin rasanya berteriak, "tanya Tuhan lah sana, kalau udah dapet jawaban bilang aku ya!"
I really really hate them.
Apa harus semua yang saya lakukan diinformasikan kesemua orang, harus di posted biar semua orang ta'u apa saja usaha kita, apa saja cara kita untuk punya anak.
Stres.
Iya, saya yang stres.
"Bagaimana mau punya anak kalau dibuat stres sama kalian!" ingin teriakkan itu ke muka kalian.
Mungkin kalian hanya sebagian orang beruntung yang menikah langsung dianugerahkan berkat keturunan diusia muda pernikahannya.
Tetapi pernahkah kalian berpikir perasaan orang yang belum beruntung seperti kalian?
Pernahkah kalian memposisikan diri kalian seperti orang yang belum beruntung seperti kalian?
Jahat.
Iya, itu adalah orang paling jahat yang saya temui.
Usia pernikahan 1 tahun saya lewati dengan bahagia, kita bersabar dan saling mendukung.
Keluarga besar juga seperti itu.
Sangat mendukung dan tidak pernah complain.
Tiba diusia 1,5 tahun pernikahan, saya mulai mengalami sakit yang tidak pernah saya duga akan saya idap, kista.
Saya sempat hamil, tetapi hamil diluar kandungan.
Itulah yang berkembang menjadi kista jika tidak dibersihkan.
Apa perasaan kalian ketika mengetahui itu ?
Merasa bersalah? Pasti tidak.
Banyak cara alternatif kita lakukan.
Pemijatan alternatif dari yang termurah sampai yang termahal, itu sudah kita lakukan.
Suami saya tipe yang lebih ke pengobatan tradisional, sedangkan saya orang yang lebih ke pengobatan modern, dokter obgyn.
Saya tidak pernah percaya dengan hal-hal diluar kehendak Tuhan, seperti menduakan Tuhan.
Tetapi kar'na saya ingin tetap patuh kepada suami saya, saya mengikuti setiap hal yang dianjurkannya, kar'na saya ta'u itulah kerinduan hatinya.
Bahkan mertua saya sempat menganjurkan ke salah satu pemilik distributor susu dari Canada, kar'na salah satu kerabat mertua sudah hamil pasca berkunjung ke tempat yang dianjurkan.
No, I only trust my God.
Tetapi itu perintah mertua, saya harus patuh.
Ketika itu saya sudah operasi laparaskopi kista.
Beliau mengatakan bahwa saya tidak bisa punya anak jika termin menstruasi saya tidak 28 hari.
"What! Memangnya Anda Tuhan!"
Hati saya menolak untuk itu, sepanjang malam saya hanya menyanyikan lagu rohani.
Saya ceritakan ke mertua saya perasaan saya, dan puji Tuhan beliau tetap mendukung segala keputusan saya.
Suatu malam saya berdoa sambil menangis,
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." - Matius 7 : 7-8
Saya ingat sekali ketika Tuhan menegur saya bahwa saya terlalu mengandalkan diri saya sendiri dalam setiap rencana di hidup saya dan suami saya.
Saya terlalu mengandalkan manusia untuk hal yang Tuhan lebih berkuasa untuk itu semua.
Saya mulai ajar diri saya sendiri untuk memulai hidup baru, mulai lagi saat teduh, memulai lagi untuk mengandalkan Tuhan Yesus dalam segala rencana kami.
Setiap hari mengajak suami untuk doa pagi bersama dan menutup hari dengan doa malam.
Melatih diri, bahwa semua ini belum tekun kami lakukan.
Pasca operasi dokter memang sudah menganjurkan untuk langsung bayi tabung atau inseminasi kar'na mengingat tingkat kesuburan saya, bisa memicu penyakit muncul lagi sebelum hamil.
Tiga bulan "dipukul" lagi untuk belajar ikut maunya Tuhan, akhirnya kita memutuskan untuk inseminasi.
Inseminasi, adalah proses pembuahan dengan cara memasukkan sperma ke dalam rahim.
- Empat sampai enam minggu sebelum jadwal inseminasi, calon ibu diminta minum pil hormonal untuk merangsang terjadinya ovulasi, yakni proses matang dan keluarnya sel telur.
- Pada hari-H, calon ayah diminta mengeluarkan sperma dengan cara masturbasi. Kemudian, sperma dicuci dan dipilih yang terbaik. Cairan yang berada di dalam sperma dibuang atau disisakan hanya sekitar 0,25 mililiter sebelum dimasukkan ke dalam rahim istri dengan bantuan kateter. Teknik ini disebut IUI (Intrauterine Insemination).
- Cara ini cukup mudah, tidak sakit dan tidak begitu mahal dibanding program bayi tabung.
- Setelah selesai, pasien dianjurkan tidur telentang selama 10–15 menit untuk memberi kesempatan sperma mencapai sel telur.
- Setelah 17 hari, dilihat apakah terjadi pembuahan atau tidak. Kalau gagal, pasangan dianjurkan mengulang lagi sampai empat kali. Kalau tetap gagal, pasangan dianjurkan mengikuti program bayi tabung. (Dikutip dari : http://www.ayahbunda.co.id/prakonsepsi-gizi-kesehatan/apa-itu-inseminasi-buatan3f )
Segala usaha kita akan percuma jika kita tidak menyertakan Tuhan dalam hidup kita, apapun itu.
Tepat di Desember 2018 kami memutuskan untuk fokus melakukan inseminasi sesuai anjuran dokter.
Mempercayakan setiap prosesnya kepada Tuhan, biar Tuhan yang ikut campur dalam setiap usaha kami.
Jarak Bukittinggi - Padang kita tempuh dengan senang hati dan hati yang penuh harapan.
Setiap hari berdoa memohon kesehatan dan keselamatan untuk bisa terus fokus dalam rencana ini dan memohon terus penyertaan Tuhan.
Hingga tanggal 15 Desember 2018 jadwal untuk inseminasi setelah semua rangkaian dilakukan, saya tidak terlalu menjabarkan banyak hal kegiatan saya apa saja kar'na masing-masing pasangan berbeda-beda tindakannya.
Tetapi saya sempat stres mengingat pada tanggal yang sama saya harus berangkat dinas ke Bandung.
Rasanya begitu sakit dan takut bahwasannya semua akan sia-sia, apalagi mengingat omongan orang jika sudah bayar mahal tetapi tidak berhasil.
Saya benar-benar frustasi.
Suami juga sempat down kar'na bingung harus bagaimana, mengingat dinas tidak bisa diwakilkan.
Malam sebelum besok akan inseminasi, kita berdoa bersama-sama, minta Tuhan tuntun langkah kami, minta Tuhan ambil bagian setiap hal nya dari ketakutan kami, bahwa rencana Tuhan akan lebih indah, dan jika memang bukan inseminasi langkah kami untuk mempunyai keturunan, biar Tuhan tetap lapangkan hati kami untuk terus berharap.
Akhirnya saya tetap inseminasi dan tetap berangkat dinas ke Bandung.
Di Bandung berusaha untuk tidak terlalu memikirkan dan menikmati saja setiap prosesnya.
Sakit kah pasca inseminasi?
Tidak.
Kalian bisa baca langkah-langkah inseminasi di banyak situs.
Puji Tuhan dokterku baik, diberikan obat penguat rahim dan juga vitamin.
Dokter juga meyakinkan untuk banyaklah berdoa, percayakan ke Tuhan saja.
Di Bandung bertemu Cika, teringat ketika pertama kali melamar pekerjaan di instansi ini, dia jugalah yang mengingatkanku untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal.
Di Bandung juga bersilahturahmi kembali dengan Cika dan keluarga, dimana Inang masih tetap dengan suka mencurahkan isi hatinya, dan Amang yang masih menasehati untuk cat rambut hitam.
Dan silahturahmi untuk terus dijaga, agar baik-baik berumahtangga, diberkati rumahtangga dan segera diberikan berkat keturunan.
Puji Tuhan, suami juga mendukung untuk selalu senang hati dan menjaga diri.
Dinas juga bertemu dengan sahabatku Amed Mail yang perhatian, oh how lucky I am ketika mendapat kasih sayang dari banyak orang yang entah kenapa membuatku teralihkan bahwa proses inseminasi ku sedang menunggu hasil.
Terimgat perkataan Tante Prastuti, "anak yang baik, pasti dibaikkan segala halnya, dan disayangi banyak orang."
Bagaimana hasilnya?
God will show it, let's see!
"Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu." Amsal 16:3
- Ryen Chrismery
- Ryen Chrismery
Comments
Post a Comment