Setelah menikah 1 tahun belum pernah terpikirkan untuk melakukan program hamil dirumah sakit, sama sekali belum terpikirkan untuk merasakan takut kalau nanti terdapat berbagai penyakit apa yang menghambat "kenapa sampai sekarang belum hamil juga ya?".
Selama 1 tahun menikah kita sudah menjelajahi banyak cara-cara tradisional, mulai dari yang murah sampai yang mahal.
Memang dasar saya kurang percaya dengan hal-hal seperti itu selain Tuhan saya sendiri, tapi kar'na itu ajakan suami, daripada dibilang tidak patuh akan suami, ya, kita lakukan, tapi saya dengan setengah hati.
And then, setelah 1 tahun menikah akhirnya kita memberanikan diri untuk program kehamilan di salah satu rumah sakit swasta di Padang.
Rangkaian program kita jalani, awalnya dokter bilang semua baik-baik saja dan malahan sehat walafiat.
Tapi kar'na tidak terlalu percaya dengan satu dokter, saya mintalah rujukannya untuk HSG atau Histerosalpingografi, yaitu pemeriksaan dengan menggunakan cairan kontras yang dimasukkan ke rongga rahim dan saluran telur untuk mengetahui kondisi saluran telur apakah ada sumbatan atau tidak.
Kok bisa ta'u langsung minta HSG?
Jadi salah seorang teman sudah lebih dulu melakukan rangkaian program ini, dan mungkin kar'na dia di kota besar jadi rangkaiannya lebih lengkap.
Berbekal apa saja yang dia lakukan makanya ikut diterapkan juga disini.
Tibalah hari untuk HSG, ditentukan jadwalnya hari ke 12 dihitung sejak hari pertama haid.
Jarak Bukittinggi - Padang yang lumayan jauh, tapi saya dan suami benar-benar tulus dan semangat melewati ini semua, demi si buah hati.
Hasil HSG langsung keluar 5 menit setelah prosesnya dilakukan, and you know what, ibu dokter yang jutek itu malah bilang "ini gimana mau hamil, keduanya non paten".
Kaget dong yah, tanyalah "trus solusinya apa ya dok?"
Dan dengan jahatnya dia menjawab, "lah, gak tau, gak bisa ini."
Sh**! Kesal dalam hati. Ini dokter kok jahat banget sih sesama wanita loh.
Setelah ambil hasil lab, kita langsung cari dokter yang masih praktek detik itu juga buat membacakan hasilnya.
Hup, lagi-lagi mendapat ujian amarah dan menahan airmata.
Menunjukkan hasil HSG ke dokter selain dokter awal ketika meminta rujukan, dan hasilnya,
"Ini dinyatakan non paten kedua tuba falopi nya. Solusinya ya kita harus operasi dulu apa yang membuat ini non paten, setelah itu baru kita tindakan."
Kecewa.
Bingung.
Akhirnya kita memutuskan balik ke Bukittinggi dengan perasaan yang benar-benar hancur.
Hari itu perasaanku hanya takut, takut suamiku meninggalkanku, takut suamiku akan berpaling.
Kita memutuskan untuk menjalani hidup saja.
Setelah 2 bulan melupakan kisah HSG,
Ketika itu saya berangkat dinas untuk diklat ke Bogor.
Jadilah saya menghubungi ipar saya untuk dijemput sekalian biar main dengan keponakan di Depok (dekat dengan Bogor).
Malam minggu waktu itu, saya diajak ipar saya untuk menemaninya ke rumah sakit kar'na anaknya yang paling kecil sedang sakit.
Ternyata rumah sakit yang sama dengan tempat saya check-up di Padang.
Dan ipar saya bilang, dia juga program hamil di rumah sakit ini dengan salah satu dokter terkenal, ta'u sendiri ini rumah sakit banyak artis-artis bayi tabung juga.
Jadilah saya memberanikan diri untuk check-up lagi, dan tanpa suami.
Dokternya tegas dan sangat berpengalaman.
Dan ketika selesai diperiksa, beliau mengatakan saya punya kista disebelah kanan, dan sudah besar, sehingga menghambat proses kehamilan.
Ada 2 kista, ukuran 4 dan 6, sudah sebesar bola kasti.
Apa perasaan ku saat itu?
Bukan sedih, justru senang.
Iya senang dengan menerima kenyataan yang sebenarnya, sehingga aku jadi ta'u tindakan apa yang harus ku lakukan.
Kar'na urusan kedinasan masih lama, jadilah dokter merujuk untuk pemanasan perut (lupa namanya), untuk membantu mengurangi ukuran kista, walaupun tidak menjamin selama 10 hari berturut-turut.
Setelah memberitahu suami bahwa penyakit yang saya alami, dia hanya bilang untuk tetap tenang dan percaya kalau Tuhan pasti berikan jalan keluar, dan suami tidak akan pernah meninggalkanku hanya kar'na itu.
Mengingat saya dari keluarga yang rata-rata dokter, jadilah saya menelepon salah satu tulang (saudara laki-laki dari ibu) untuk berkonsultasi.
Beliau menyarankan untuk menjaga pola makan dan tidak percaya dengan satu dokter saja.
Biasanya kista endometriosis (kista cokelat) dapat mengecil.
Oke, saya bisa terima dan lega. Saya kembali melanjutkan hidup saya dan suami.
Sekembalinya dari Bogor, saya berniat untuk cek kembali tetapi dengan dokter yang terkenal juga, tetap dirumah sakit tempat saya HSG.
Tanpa memberitahunya saya sudah check-up sebelumnya di Depok, saya hanya menunjukkan hasil HSG saya.
Tepat dengan dokter yang di Depok, beliau mengatakan bahwa ada 2 kista berdempetan disebelah kanan dan posisinya berada di ujung tuba falopi sehingga menghambat proses pembuahan, dan menyebabkan haid yang tidak teratur dan keluhan haid lainnya.
Beliau menyarankan untuk laparaskopi, yaitu melihat kedalam perut tanpa melakukan pembedahan besar (seperti laparatomi) dengan menggunakan alat-alat yang 'mini'.
Ternyata sebelum ini saya sempat dinyatakan hamil, tetapi hamil diluar kandungan, atau yang disebut dengan hamil anggur.
Kar'na tidak paham dan tidak terlalu peduli dulunya, jadilah kista.
Dipicu juga dengan obat-obatan serta pola makan yang salah.
Menunggu untuk memutuskan mengambil tindakan itu atau tidak, saya berangkat pulang ke Medan untuk minta restu dengan Mama, sambil saya check-up lagi dengan dokter berbeda lainnya.
Setelah yakin dengan keadaan saya, akhirnya saya minta ijin untuk laparaskopi.
Mama cukup takut kar'na mungkin tidak paham kali ya dengan prosesnya, tetapi cukup berdoa dan selalu bilang "andalkan Tuhan Yesus dalam segala tindakanmu ya, Nak".
Oke kita siap.
Sebelum laparaskopi, saya benar-benar menikmati hidup saya.
Berpikir, nanti setelah laparaskopi langsung hamil, duh, kapan lagi bisa main kesana-kemari.
Akhirnya berangkat bolak-balik ke Kuala Lumpur, berangkat ke Singapore, ke Bangkok, benar-benar menyenangkan diri.
Tepat pada tanggal Jumat, 13 Juli 2018, dikamar VVIP 13 jadilah saya laparaskopi.
Masuk kamar rawat di hari Kamis, 12 Juli 2018.
Pemulihannya cukup cepat, hari ini operasi besoknya saya sudah jalan kelilingin kamar, apalagi lihat kamar berantakan kar'na yang menjaga adalah suami dan adik saya.
Hasil laparaskopinya secara fisik hanya titik-titik saja.
Senin, 16 Juli 2018 saya sudah bisa kembali ke Bukittinggi, dan bedrest selama seminggu, walaupun dokter bilang sudah bisa beraktifitas seperti biasa 3 hari setelahnya.
Kisah selama laparaskopi sangat mengharukan.
Ketika akan masuk ke ruang operasi, kita tidak ta'u kalau disitu memang harus langsung masuk.
Astaga, belum berpamitan dengan suami, belum berdoa bersama.
It's so sad.
Melihat dia dari balik kaca ruang tunggu operasi menahan airmata, sama, aku juga.
Berdoa dalam hati, "Tuhan Yesus, aku masih mau ketemu suami dan adikku, aku masih mau ketemu keluargaku."
Ketika dipanggil untuk persiapan di meja operasi, sambil di bius, saya melihat jam dinding di depan saya, tepat pukul 14:00 wib.
"Tuhan Yesus, aku percaya janjiMu padaku dan keluargaku. Aku percaya bahwa Tuhan tidak akan tinggalkan aku. Aku ingin bangun lagi bertemu keluargaku, bangunkan aku lagi tepat pukul 18:00 ya Tuhan. Aku sayang Tuhan Yesus. Berkati semua dokter-dokter disini. Amin"
Dan seketika ku pun sangat mengantuk, dan sayup ku dengar dokterku bilang,
"berdoa ya, sampai nanti ketemu,"
...
Dan kamu ta'u apa itu Mujizat? Aku ta'u dan aku tak ta'u cara mengungkapkannya, tapi itu benar-benar dahsyat.
Aku bangun tepat pukul 18:00 wib, dan semua orang tercengang, kar'na yang lebih dulu dioperasi dariku juga belum terbangun.
"Dok, sus, dingin, minta selimut," dan semua langsung senyum dan dokter anastesi, ya aku ingat dia yang paling bahagia kurasa bilang "kamu hebat, kamu kuat, cepat banget bangunnya, bentar ya diambilkan selimutnya".
Seketika menunggu mereka mengambilkan selimut, aku melihat jam di dinding dengan airmata menetes (kar'na masih dibius juga tuh airmatanya mungkin xoxo),
aku mencoba memanggil perawatnya, dan dia menghampiriku,
"mbak, tolong bilang suami saya, saya sudah bangun, nanti ketemu dikamar aja ya, bilang ya mbak" kataku masih lemas.
How great is our God. Yes, He is!
Ketika dibawa ke ruangan rawat aku melihat suamiku dan adikku menangis melihatku.
"Gapapa, aku udah bangun kok" kataku sambil berlalu didorong perawat.
Dan aku pun tertidur sesampainya dikamar rawatku.
Kisah mengharukan and based on true story loh.
Puji Tuhan, kista sudah dibersihkan, dan ternyata ada polip juga tetapi juga sudah dibersihkan.
Tinggal PCOS, wow. Apalagi ini?
Tetapi dokter selalu menenangkan, semua itu ada solusinya.
After laparaskopi, dokter sudah mendesak untuk segera program, entah itu bayi tabung atau inseminasi.
Duh, saya masih mau alami.
Dan tinggal menunggu saja Tuhan memberikan berkat keturunan kepada saya.
So, for who you are reading this, segala sesuatu didunia ini ada solusinya.
Tetapi yang terpenting, bagaimana kita mengandalkan Tuhan untuk meminta solusi yang kita rencanakan tepat atau tidak.
Saya terlalu merasa bahwa saya mampu dan saya kuat.
No!
Semakin kamu merasa seperti itu, semakin banyak pula dan semakin besar pula masalah menurutmu.
Jangan kuatir! Trust in God.
He will make a way ketika kita berserah.
It's true.
- Ryen Chrimery
- Ryen Chrimery
Comments
Post a Comment